<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Wilayah Abu-Abu Eksklusif dan Inklusif</title>
	<link>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html</link>
	<description>Thinking about Islam and Indonesia</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 10:45:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
		<item>
		<title>By: yunita</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-128</link>
		<dc:creator>yunita</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 14:03:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-128</guid>
		<description>Saya seorang pendeta. Tahun 1999-2004 saya bekerja di Dienst Mission und Entwicklung (Pelayanan misi dan pembangunan)di Evangelische Württembergkirche (sinode Württemberg) Jerman. Pertengahan 2004 saya kembali ke Palu Sulawesi-Tengah. Sejak september 2006 saya kembali lagi ke Jerman tapi kali ini bukan di Württemberg tapi dinegara bagian Hessen tepatnya digereja Evangelische Kirchlische in Hessen und Nassau,saya dan keluarga saat ini tinggal dikota Frankfurt.

Pada tahun 2005 Bishop Württemberg pimpinan gereja dimana saya pernah bekerja,datang ketempat saya di Palu Sulawesi-Tengah. Dia datang dengan 9 orang teolog yang adalah teman-teman saya. Sebelum bishop datang, saya sudah kirim jadwal waktu dan tempat dimana saja dia harus berkunjung. Salah satu acara adalah berjumpa dengan pengurus besar Al-Khaerat Palu. Pada saat tiba untuk berkunjung ke Al-Khaerat sang Bishop bingung dan dia marah besar kepada teman-teman saya yang mendampinginya. Rupanya teman saya yang menerima jadwal dari saya tidak mengatakan kepada Bishop bahwa ada termin berkunjung ke organisasi Islam paling besar di Sulawesi-Tengah. Maklum sang Bishop kita adalah profesor yang konservativ. Dia telah menulis beberapa buku yang rumit dengan warna yang tegas, tidak ada abu-abunya. Sedangkan teman-teman saya adalah petualang-petualang yang doyan meramba wilayah abu-abu.
 
Karena telah diberitahu pada Bishop bahwa pihak Al-Khaerat telah siap menyambut dengan seluruh pengurus lengkap, mahasiswa sampai anak-anak sekolah.Maka untuk mengatasi situasi yang kacau ini,Bishop memanggil saya bercakap berdua saya. Dia katakan saya ini Bishop, saya ini representasi umat kristen Jerman Selatan,apa yang saya lakukan punya konsekwensi spirit dan politik bagi umat yang dia pimpin. Apa yang harus saya buat katanya. Lalu saya katakan,yang dibutuhkan bapak hanyalah "berjumpa". Temui mereka,sapa mereka. Mereka juga ingin berjumpa dan menyapa bapak. Jika bapak bertemu mereka maka konsekwensinya akan luas pada tataran spirit dan poltik di Sulawesi-tengah yang panas. Hanya dengan berjumpa, sudah cukup merubah pandangan yang keliru bagi kedua pihak. Berjumpa berarti mau berdamai. Jika perdamaian bisa maju walu hanya setapak, maka kehadiran Bishop dinegeri saya akan relevan. 

Akhirnya sang Bishop menyerah, dia mau datang kemarkas besar Al-Khaerat. Disana sudah menunggu pria berpeci, bersorban dan perempuan-perempuan berjilbab dan banyak wartawan. Pertemuan itu sendiri tidak ada diskusi teologi,hanya salam hangat, saling hormat dan banyak ketawanya. Pada akhir pertemuan teman-teman saya baik yang laki-laki dan perempuan memeluk dan mencium saya. Tipuan mereka berhasil.  Ada juga seorang perempuan berjilbab datang pada saya sambil menangis, dia hanya mengatakan, terima-kasih terima-kasih.

Kunjungan Bishop ke Palu juga mendapat perhatian pers Jerman, dan Bishop mendapat pujian. Bishop pada akhir kunjungan dikota saya, menjabat erat tangan saya kemudian memeluk saya dan mengatakan, "Saya telah berkunjung banyak bangsa, tapi dikota inilah yang paling berkesan dan sangat berarti.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya seorang pendeta. Tahun 1999-2004 saya bekerja di Dienst Mission und Entwicklung (Pelayanan misi dan pembangunan)di Evangelische Württembergkirche (sinode Württemberg) Jerman. Pertengahan 2004 saya kembali ke Palu Sulawesi-Tengah. Sejak september 2006 saya kembali lagi ke Jerman tapi kali ini bukan di Württemberg tapi dinegara bagian Hessen tepatnya digereja Evangelische Kirchlische in Hessen und Nassau,saya dan keluarga saat ini tinggal dikota Frankfurt.</p>
<p>Pada tahun 2005 Bishop Württemberg pimpinan gereja dimana saya pernah bekerja,datang ketempat saya di Palu Sulawesi-Tengah. Dia datang dengan 9 orang teolog yang adalah teman-teman saya. Sebelum bishop datang, saya sudah kirim jadwal waktu dan tempat dimana saja dia harus berkunjung. Salah satu acara adalah berjumpa dengan pengurus besar Al-Khaerat Palu. Pada saat tiba untuk berkunjung ke Al-Khaerat sang Bishop bingung dan dia marah besar kepada teman-teman saya yang mendampinginya. Rupanya teman saya yang menerima jadwal dari saya tidak mengatakan kepada Bishop bahwa ada termin berkunjung ke organisasi Islam paling besar di Sulawesi-Tengah. Maklum sang Bishop kita adalah profesor yang konservativ. Dia telah menulis beberapa buku yang rumit dengan warna yang tegas, tidak ada abu-abunya. Sedangkan teman-teman saya adalah petualang-petualang yang doyan meramba wilayah abu-abu.</p>
<p>Karena telah diberitahu pada Bishop bahwa pihak Al-Khaerat telah siap menyambut dengan seluruh pengurus lengkap, mahasiswa sampai anak-anak sekolah.Maka untuk mengatasi situasi yang kacau ini,Bishop memanggil saya bercakap berdua saya. Dia katakan saya ini Bishop, saya ini representasi umat kristen Jerman Selatan,apa yang saya lakukan punya konsekwensi spirit dan politik bagi umat yang dia pimpin. Apa yang harus saya buat katanya. Lalu saya katakan,yang dibutuhkan bapak hanyalah &#8220;berjumpa&#8221;. Temui mereka,sapa mereka. Mereka juga ingin berjumpa dan menyapa bapak. Jika bapak bertemu mereka maka konsekwensinya akan luas pada tataran spirit dan poltik di Sulawesi-tengah yang panas. Hanya dengan berjumpa, sudah cukup merubah pandangan yang keliru bagi kedua pihak. Berjumpa berarti mau berdamai. Jika perdamaian bisa maju walu hanya setapak, maka kehadiran Bishop dinegeri saya akan relevan. </p>
<p>Akhirnya sang Bishop menyerah, dia mau datang kemarkas besar Al-Khaerat. Disana sudah menunggu pria berpeci, bersorban dan perempuan-perempuan berjilbab dan banyak wartawan. Pertemuan itu sendiri tidak ada diskusi teologi,hanya salam hangat, saling hormat dan banyak ketawanya. Pada akhir pertemuan teman-teman saya baik yang laki-laki dan perempuan memeluk dan mencium saya. Tipuan mereka berhasil.  Ada juga seorang perempuan berjilbab datang pada saya sambil menangis, dia hanya mengatakan, terima-kasih terima-kasih.</p>
<p>Kunjungan Bishop ke Palu juga mendapat perhatian pers Jerman, dan Bishop mendapat pujian. Bishop pada akhir kunjungan dikota saya, menjabat erat tangan saya kemudian memeluk saya dan mengatakan, &#8220;Saya telah berkunjung banyak bangsa, tapi dikota inilah yang paling berkesan dan sangat berarti.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: arham</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-124</link>
		<dc:creator>arham</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 02:52:28 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-124</guid>
		<description>Mas Burhan, 
Saya tidak begitu mendalami isu KB. Itu bagus sekali kalau mas Burhan menekuninya. Kebetulan saja istri saya langganan susu kedelei yang dijual oleh keluarga salafy itu. dan mereka (sesama istri) menjadi akrab. Kata istri saya, mereka kenal pertama kali pas ada pengajian RW di kampung. Kebetulan kampung Muhammadiyah tempat saya tinggal sangat rajin mengadakan pengajian ibu-ibu. meski istri saya sendiri malas ikut pengajian (maklum, sejak TK-SMU besar dalam lingkungan pendidikan Kristen dan Katolik, ayahnya Yogya-kejawen dan ibunya sunda-rajin sholat). 

Pernah suatu ketika, kami menjual tabung gas (krn krisis) ke warungnya, dan si ibu salafy, orang nya sangat baik sekali, menawarkan digadaikan saja sebanyak Rp. 180.000. uang itu oleh istriku dipakai untuk beli kompor minyak. Kalau lebih sebulan baru deh diambil ama dia. Akhirnya kami ndak mampu nebus dan membeli kompor gas proyek Yusuf Kalla itu, 2 bulan kemudian. 

Suatu hari, 2 minggu lalu, istri saya belanja di pasar Giwangan Yogya. kebetulan anak saya mau dibelikan kue pukis yang ada coklatnya. Sepasang suami istri salafy menggendong anaknya yang mau dibelikan kue yg sama. Sang istri mengenakan cadar. begitu si penjual kue mau memasukan coklat ke dalam kue yang sedang dibakar dlm cetakannya, sang suami melarang, "jangan dimasukin coklat, itu barang impor milik asing." istrinya berkata sambil menggendong anaknya, "biarin aja ayah, anaknya suka coklat kok." Sang suami menjawab dengan nada suara yang agak tinggi, "Jangan masukin mas, pokoknya ndak boleh." Si mas penjual agak bengong mau milih yg mana: suami atau istri itu. Istri saya heran dan bertanya itu aliran apa sih mas? saya jawab aliran anti neolib..hehehe. "Masak sih gitu aja nggak boleh! Istri dan anaknya mau aja kok, dasar laki-laki!!" kata istriku dengan kesalnya. 

kembali ke soal keluarga salafy tadi yang tetangga. istri saya juga heran, dan katanya, "yang salafy itu romantis ya?" Romantis gimana? tanya saya. "Dia kalau manggil suaminya, suamiku!!, begitu juga dengan suaminya, manggil ibu itu, "istriku....", kadang manggil "kekasihku..." wuiih romantis, beda sama kamu, mana ada romantis-romantisnya!" Saya tertawa dan menjawab..."iya lah, makanya laki-laki di Salafy itu punya istri banyak, ceweknya juga mau karena romantisnya itu, mau kamu?" Istri saya lantas berkata, "kayak di film  ayat-ayat cinta aja." Kebetulan beberapa hari sebelumnya, istri saya sudah nonton film itu. 

Saya teringat masa mondok dulu, dan waktu kuliah di sastra arab IAIN SUka. Kalau kita membaca teks-teks arab klasik maupun modern, ataupun novel-novel arab, panggilan di sana adalah: ya..zaujatiy, ya zaujiy, ya habibiy..ya habibatiy...dan semacamnya. bahasa dan kebudayaan itu barangkali yang direplika oleh kalanga salafy. Sama dengan anak-anak muda sekarang, yang suka pakai 'honey'...'darling'....dulu waktu pacaran sama istriku, suka pakai kata-kata 'honey'...dan 'sayang'..'yang'..Dan sekarang tinggal 'yang..' lama-lama ga ada yang kepake..hehehe..

maaf terlalu banyak ya...i have been started discussion..:) 
emailku: laodearham@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Burhan,<br />
Saya tidak begitu mendalami isu KB. Itu bagus sekali kalau mas Burhan menekuninya. Kebetulan saja istri saya langganan susu kedelei yang dijual oleh keluarga salafy itu. dan mereka (sesama istri) menjadi akrab. Kata istri saya, mereka kenal pertama kali pas ada pengajian RW di kampung. Kebetulan kampung Muhammadiyah tempat saya tinggal sangat rajin mengadakan pengajian ibu-ibu. meski istri saya sendiri malas ikut pengajian (maklum, sejak TK-SMU besar dalam lingkungan pendidikan Kristen dan Katolik, ayahnya Yogya-kejawen dan ibunya sunda-rajin sholat). </p>
<p>Pernah suatu ketika, kami menjual tabung gas (krn krisis) ke warungnya, dan si ibu salafy, orang nya sangat baik sekali, menawarkan digadaikan saja sebanyak Rp. 180.000. uang itu oleh istriku dipakai untuk beli kompor minyak. Kalau lebih sebulan baru deh diambil ama dia. Akhirnya kami ndak mampu nebus dan membeli kompor gas proyek Yusuf Kalla itu, 2 bulan kemudian. </p>
<p>Suatu hari, 2 minggu lalu, istri saya belanja di pasar Giwangan Yogya. kebetulan anak saya mau dibelikan kue pukis yang ada coklatnya. Sepasang suami istri salafy menggendong anaknya yang mau dibelikan kue yg sama. Sang istri mengenakan cadar. begitu si penjual kue mau memasukan coklat ke dalam kue yang sedang dibakar dlm cetakannya, sang suami melarang, &#8220;jangan dimasukin coklat, itu barang impor milik asing.&#8221; istrinya berkata sambil menggendong anaknya, &#8220;biarin aja ayah, anaknya suka coklat kok.&#8221; Sang suami menjawab dengan nada suara yang agak tinggi, &#8220;Jangan masukin mas, pokoknya ndak boleh.&#8221; Si mas penjual agak bengong mau milih yg mana: suami atau istri itu. Istri saya heran dan bertanya itu aliran apa sih mas? saya jawab aliran anti neolib..hehehe. &#8220;Masak sih gitu aja nggak boleh! Istri dan anaknya mau aja kok, dasar laki-laki!!&#8221; kata istriku dengan kesalnya. </p>
<p>kembali ke soal keluarga salafy tadi yang tetangga. istri saya juga heran, dan katanya, &#8220;yang salafy itu romantis ya?&#8221; Romantis gimana? tanya saya. &#8220;Dia kalau manggil suaminya, suamiku!!, begitu juga dengan suaminya, manggil ibu itu, &#8220;istriku&#8230;.&#8221;, kadang manggil &#8220;kekasihku&#8230;&#8221; wuiih romantis, beda sama kamu, mana ada romantis-romantisnya!&#8221; Saya tertawa dan menjawab&#8230;&#8221;iya lah, makanya laki-laki di Salafy itu punya istri banyak, ceweknya juga mau karena romantisnya itu, mau kamu?&#8221; Istri saya lantas berkata, &#8220;kayak di film  ayat-ayat cinta aja.&#8221; Kebetulan beberapa hari sebelumnya, istri saya sudah nonton film itu. </p>
<p>Saya teringat masa mondok dulu, dan waktu kuliah di sastra arab IAIN SUka. Kalau kita membaca teks-teks arab klasik maupun modern, ataupun novel-novel arab, panggilan di sana adalah: ya..zaujatiy, ya zaujiy, ya habibiy..ya habibatiy&#8230;dan semacamnya. bahasa dan kebudayaan itu barangkali yang direplika oleh kalanga salafy. Sama dengan anak-anak muda sekarang, yang suka pakai &#8216;honey&#8217;&#8230;&#8217;darling&#8217;&#8230;.dulu waktu pacaran sama istriku, suka pakai kata-kata &#8216;honey&#8217;&#8230;dan &#8217;sayang&#8217;..&#8217;yang&#8217;..Dan sekarang tinggal &#8216;yang..&#8217; lama-lama ga ada yang kepake..hehehe..</p>
<p>maaf terlalu banyak ya&#8230;i have been started discussion..:)<br />
emailku: <a href="mailto:laodearham@yahoo.com">laodearham@yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: burhan</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-119</link>
		<dc:creator>burhan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 12:16:05 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-119</guid>
		<description>mas,

boleh minta emailnya gak?
saya pengen diskusi lebih jauh

BA</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mas,</p>
<p>boleh minta emailnya gak?<br />
saya pengen diskusi lebih jauh</p>
<p>BA</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: burhan</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-118</link>
		<dc:creator>burhan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 11:09:46 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-118</guid>
		<description>Mas Laode,

sejak 2005 saya meneliti KB di keluarga Salafi di Yogya. Saat ini memang ada trend counter-discourse terhadap gerakan KB, gender, dan feminisme secara umum, di kalangan Salafi melalui penerbitan buku-buku, majalah, dan buletin salafi. Saya bisa katakan bahwa semua kelompok "Salafi"-Jamaah salafi, Jamaah Tabligh, HTI, MMI- menganut paham pro-natalist, meskipun dengan alasan dan gradasi yang berbeda-beda. Entah itu karena alasan ketaatan agama ataupun politis. PKS mislnya, saya denger, di satu daerah menginstruksikan perbanyak anak untuk memenangkan pemilu di masa datang!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Laode,</p>
<p>sejak 2005 saya meneliti KB di keluarga Salafi di Yogya. Saat ini memang ada trend counter-discourse terhadap gerakan KB, gender, dan feminisme secara umum, di kalangan Salafi melalui penerbitan buku-buku, majalah, dan buletin salafi. Saya bisa katakan bahwa semua kelompok &#8220;Salafi&#8221;-Jamaah salafi, Jamaah Tabligh, HTI, MMI- menganut paham pro-natalist, meskipun dengan alasan dan gradasi yang berbeda-beda. Entah itu karena alasan ketaatan agama ataupun politis. PKS mislnya, saya denger, di satu daerah menginstruksikan perbanyak anak untuk memenangkan pemilu di masa datang!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sunarwoto</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-111</link>
		<dc:creator>sunarwoto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 22:14:01 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/wilayah-abu-abu-eksklusif-dan-inklusif.html#comment-111</guid>
		<description>wah coy, akhirnya kau nongol dengan foto yang dah beda dari 2 tahun lalu. kau ga gundul lagi (hehehe). Aku jadi ingat ketika kau putar lagu2 islami yang kata kau itu adalah lagu pemompa semangat para pejuang poso. Lagunya the BROTHERS yg judulnya SATU PERJUANGAN dan TEMAN SEJATI. Bener coy, dialog dengan keragaman memang butuh penyelaman dan penghayatan, dan juga keterbukaan. Sama seperti ketika aku nikmati 2 lagu itu dulu di kamar kosmu dan juga di sini di Belanda, deket kuburannya eyang snouck hurgronje. Mendengarkannya membutuhkan ruang batin yang terbebas dari prasangka, selain nikmat dan nikmat. Sukses! Salam dari Leiden nan Mungil</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah coy, akhirnya kau nongol dengan foto yang dah beda dari 2 tahun lalu. kau ga gundul lagi (hehehe). Aku jadi ingat ketika kau putar lagu2 islami yang kata kau itu adalah lagu pemompa semangat para pejuang poso. Lagunya the BROTHERS yg judulnya SATU PERJUANGAN dan TEMAN SEJATI. Bener coy, dialog dengan keragaman memang butuh penyelaman dan penghayatan, dan juga keterbukaan. Sama seperti ketika aku nikmati 2 lagu itu dulu di kamar kosmu dan juga di sini di Belanda, deket kuburannya eyang snouck hurgronje. Mendengarkannya membutuhkan ruang batin yang terbebas dari prasangka, selain nikmat dan nikmat. Sukses! Salam dari Leiden nan Mungil</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
