Laode Arham
Menjadi inklusif atau eksklusif adalah dua hal yang tidak bisa disimplifikasi secara kaku. Keduanya adalah sesuatu yang bisa berkembang sekaligus dalam satu diri atau satu jiwa. Ini kesimpulan saya sementara atas pengalaman batin saya menggeluti tentang hal ini selama bertahun-tahun.
Saya bergaul secara akrab dengan berbagai kelompok agama. Saya bergaul dengan sejumlah pendeta dan pastur. Saya juga melakukan latihan meditasi di sebuah vihara di Yogyakarta selama berbulan-bulan. Pun saya berdoa bersama kalangan teman-teman Budha, Katolik, Kristen. Tepatnya saya bergereja, berpura, bervihara dan bermasjid. Itu semua telah memberikan rasa damai dan ketenangan bagi saya.
Tak perlu terkejut dengan saya. Saya juga berusaha menyelami keberagamaan yang berbeda. Saya berusaha memahami teman-teman yang bekecimpung dalam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), teman-teman dari Salafi, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan saya juga pernah bersama ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Biasanya semua itu dimulai dari sebuah pertemuan. Pun saya juga berusaha mendekati sejumlah aktivis Islam yang mejadi korban pelanggaran HAM di masa Orba. Saya merasa ada yang penting dari apa yang mereka perjuangkan sebagai alternatif dari sistem yang sudah salah ini: kapitalisme dan imperialisme global. Mereka adalah salah satu warisan sejarah Islam yang penting.
Saya menghargai semuanya. Bagiku, mereka semua memberikan makna hidup tersendiri: bahwa kita sudah terlanjut hidup dalam dunia yang salah, yang timpang dan menindas. Sikap politik kalangan muslim yang seperti ini, kurang lebih sama dengan yang kufahami dari teman-teman Kiri. Mulai dari Kiri tengah hingga amat Kiri. Yang saya hindari adalah menempatkan diri pada sebuah sistem yang membuat orang harus eksklusif, saling mencurigai. Bukankah ini non sense?
Kalangan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) pun tidak semuanya “garang” dan eksklusif seperti yang sering digambarkan secara umum, atau dikesankan selama ini.
Ada situasi mikro dan makro yang membuat mereka dan kita terkadang berada dalam emosi dan pikiran yang naik-turun. Di situlah tampaknya kita harus terus melihat diri sendiri, terus mengevaluasi dan menyadari diri sendiri: apakah kita eksklusif atau inklusif. Terkadang saya merasa bahwa ustaz Irfan S. Awwas sangat inklusif. Demikian halnya ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Dan kawan-kawan di Islam liberal, pluralisme dan semacamnya terasa begitu eksklusif. Yang saya simpulkan sementara, dari semua pengalaman itu adalah ’ada saatnya di mana bibir kita mengucapkan hal-hal yang tidak enak didengar, dan pada saat tertentu tindakan kita bertentangan dengan gagasan besar (ideologi/paham) yang kita perjuangkan dan kampanyekan.’
Sekedar berbagi cerita. Saya tinggal di sebuah rumah, terletak di dekat sebuah keluarga Salafi yang mengharamkan KB. Begini uniknya, istri tetangga saya itu secara diam-diam bertutur kepada istriku (sehingga mereka menjadi akrab) bahwa ia secara sembunyi-sembunyi menggunakan pil KB supaya tidak hamil lagi. Sekedar informasi, keluarga ini sudah mempunyai 4 anak dan masih kecil-kecil. Tampaknya sang istri sangat kerepotan mengurus keempat anak sekaligus.
Kalangan MMI mengharamkan demokrasi sebagai sebuah ideologi, tetapi harus diingat bahwa mereka membolehkan demokrasi sebagai sebuah mekanisme politik yang islami untuk menentukan siapa pemimpin mereka. Mekanisme ini juga mereka gunakan dalam pemilihan Ketua Lajnah Tanfiziyah di MMI.
Pengalaman “tsawrah institut” di Irlandia menunjukkan bahwa menjadi eksklusif dan inklusif adalah persoalan persepsi media, budaya dan politik. Bukan sebagai sesuatu yang betul-betul substantif atau ontologis lah.
Kalau saya tumbuh di lingkungan dimana saya (teman, sodara, orangtua) pernah ditindas, dipenjara, disikasa, disetrum atau dibunuh, maka saya akan menganut ideologi laiknya Ustaz Irfan atau umumnya petinggi-petinggi MMI. Kalau saya belajar di Yaman dan berada dalam “rezim Massa” maka saya akan hanyut dalam panggilan jihad ke Afganistan. Hal yang berbeda akan terjadi jika saya berada dalam sebuah lingkungan akademik di Eropa atau Amerika. Karena semua mampu memberikan saya lautan ilmu dan informasi. Dunia ini ternyata damai dan alangkah naifnya mereka yang berpikiran untuk memusuhi orang lain.
Kata kabar berita, ada salah satu “kawan” kita Meneer dari Belanda mengabarkan anti Islam di sana. Yah itulah dunia dan sistem yang berlangsung penuh dengan kontradiksi- kontradiksi dan dialektika sejarah. Mungkin itu tugas kita untuk menyelesaikan kontradiksi itu. Bahkan kadang ada yang mengambil keuntungan dari kontradiksi itu. Misalnya, dalam pertikaian ada yang malah bisnis senjata. Ada juga yang memanfaatkan untuk alat memperoleh, merebut, atau mempertahankan kekuasaan.
Jujur saja. Saya berada di lingkungan yang amat ”kecil”. Namun saya berusaha agar setiap hari saya tetap berhubungan dan berdialog, berkawan dengan aneka macam. Dari Kiri, Kanan, Muslim, non-Muslim dan lainnya. Saya selalu berharap agar kita menemukan solusi dan titik temu dengan berbagai kalangan, rajin berdiskusi dan berdialog. Bahkan kalau bisa berdialog dengan yang kita anggap musuh. Meski sementara ini, saya tidak merasa punya lawan, kecuali para penghisap rakyat, baik yang berskala nasional maupun internasional.
Saya berusaha berdialog terus. Saya (dapat) menjadi simpatisan MMI ataupun Ustaz Abu Bakar Ba’asyir. Pada saat yang sama saya juga bisa bergaung dalam Aliansi Jaringan Indonesia DAMAI yang disponsori DIAN-Interfidei. Saya juga pendukung Tri Panji Papernas yang sering dihubungkan dengan label PKI atau komunisme. Di sinilah pelajaran penting yang dapat kupetik, ‘dalam proses dialektika dan dialog ini, kita harus selalu berusaha membebaskan diri dari aneka stigma: komunis, liberal, atau fundamentalis’.
——-
Penulis adalah seorang aktivis, kini menjadi Staf Divisi Program Pusham UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta.

5 users commented in " Wilayah Abu-Abu Eksklusif dan Inklusif "
Follow-up comment rss or Leave a Trackbackwah coy, akhirnya kau nongol dengan foto yang dah beda dari 2 tahun lalu. kau ga gundul lagi (hehehe). Aku jadi ingat ketika kau putar lagu2 islami yang kata kau itu adalah lagu pemompa semangat para pejuang poso. Lagunya the BROTHERS yg judulnya SATU PERJUANGAN dan TEMAN SEJATI. Bener coy, dialog dengan keragaman memang butuh penyelaman dan penghayatan, dan juga keterbukaan. Sama seperti ketika aku nikmati 2 lagu itu dulu di kamar kosmu dan juga di sini di Belanda, deket kuburannya eyang snouck hurgronje. Mendengarkannya membutuhkan ruang batin yang terbebas dari prasangka, selain nikmat dan nikmat. Sukses! Salam dari Leiden nan Mungil
Mas Laode,
sejak 2005 saya meneliti KB di keluarga Salafi di Yogya. Saat ini memang ada trend counter-discourse terhadap gerakan KB, gender, dan feminisme secara umum, di kalangan Salafi melalui penerbitan buku-buku, majalah, dan buletin salafi. Saya bisa katakan bahwa semua kelompok “Salafi”-Jamaah salafi, Jamaah Tabligh, HTI, MMI- menganut paham pro-natalist, meskipun dengan alasan dan gradasi yang berbeda-beda. Entah itu karena alasan ketaatan agama ataupun politis. PKS mislnya, saya denger, di satu daerah menginstruksikan perbanyak anak untuk memenangkan pemilu di masa datang!
mas,
boleh minta emailnya gak?
saya pengen diskusi lebih jauh
BA
Mas Burhan,
Saya tidak begitu mendalami isu KB. Itu bagus sekali kalau mas Burhan menekuninya. Kebetulan saja istri saya langganan susu kedelei yang dijual oleh keluarga salafy itu. dan mereka (sesama istri) menjadi akrab. Kata istri saya, mereka kenal pertama kali pas ada pengajian RW di kampung. Kebetulan kampung Muhammadiyah tempat saya tinggal sangat rajin mengadakan pengajian ibu-ibu. meski istri saya sendiri malas ikut pengajian (maklum, sejak TK-SMU besar dalam lingkungan pendidikan Kristen dan Katolik, ayahnya Yogya-kejawen dan ibunya sunda-rajin sholat).
Pernah suatu ketika, kami menjual tabung gas (krn krisis) ke warungnya, dan si ibu salafy, orang nya sangat baik sekali, menawarkan digadaikan saja sebanyak Rp. 180.000. uang itu oleh istriku dipakai untuk beli kompor minyak. Kalau lebih sebulan baru deh diambil ama dia. Akhirnya kami ndak mampu nebus dan membeli kompor gas proyek Yusuf Kalla itu, 2 bulan kemudian.
Suatu hari, 2 minggu lalu, istri saya belanja di pasar Giwangan Yogya. kebetulan anak saya mau dibelikan kue pukis yang ada coklatnya. Sepasang suami istri salafy menggendong anaknya yang mau dibelikan kue yg sama. Sang istri mengenakan cadar. begitu si penjual kue mau memasukan coklat ke dalam kue yang sedang dibakar dlm cetakannya, sang suami melarang, “jangan dimasukin coklat, itu barang impor milik asing.” istrinya berkata sambil menggendong anaknya, “biarin aja ayah, anaknya suka coklat kok.” Sang suami menjawab dengan nada suara yang agak tinggi, “Jangan masukin mas, pokoknya ndak boleh.” Si mas penjual agak bengong mau milih yg mana: suami atau istri itu. Istri saya heran dan bertanya itu aliran apa sih mas? saya jawab aliran anti neolib..hehehe. “Masak sih gitu aja nggak boleh! Istri dan anaknya mau aja kok, dasar laki-laki!!” kata istriku dengan kesalnya.
kembali ke soal keluarga salafy tadi yang tetangga. istri saya juga heran, dan katanya, “yang salafy itu romantis ya?” Romantis gimana? tanya saya. “Dia kalau manggil suaminya, suamiku!!, begitu juga dengan suaminya, manggil ibu itu, “istriku….”, kadang manggil “kekasihku…” wuiih romantis, beda sama kamu, mana ada romantis-romantisnya!” Saya tertawa dan menjawab…”iya lah, makanya laki-laki di Salafy itu punya istri banyak, ceweknya juga mau karena romantisnya itu, mau kamu?” Istri saya lantas berkata, “kayak di film ayat-ayat cinta aja.” Kebetulan beberapa hari sebelumnya, istri saya sudah nonton film itu.
Saya teringat masa mondok dulu, dan waktu kuliah di sastra arab IAIN SUka. Kalau kita membaca teks-teks arab klasik maupun modern, ataupun novel-novel arab, panggilan di sana adalah: ya..zaujatiy, ya zaujiy, ya habibiy..ya habibatiy…dan semacamnya. bahasa dan kebudayaan itu barangkali yang direplika oleh kalanga salafy. Sama dengan anak-anak muda sekarang, yang suka pakai ‘honey’…’darling’….dulu waktu pacaran sama istriku, suka pakai kata-kata ‘honey’…dan ’sayang’..’yang’..Dan sekarang tinggal ‘yang..’ lama-lama ga ada yang kepake..hehehe..
maaf terlalu banyak ya…i have been started discussion..:)
emailku: laodearham@yahoo.com
Saya seorang pendeta. Tahun 1999-2004 saya bekerja di Dienst Mission und Entwicklung (Pelayanan misi dan pembangunan)di Evangelische Württembergkirche (sinode Württemberg) Jerman. Pertengahan 2004 saya kembali ke Palu Sulawesi-Tengah. Sejak september 2006 saya kembali lagi ke Jerman tapi kali ini bukan di Württemberg tapi dinegara bagian Hessen tepatnya digereja Evangelische Kirchlische in Hessen und Nassau,saya dan keluarga saat ini tinggal dikota Frankfurt.
Pada tahun 2005 Bishop Württemberg pimpinan gereja dimana saya pernah bekerja,datang ketempat saya di Palu Sulawesi-Tengah. Dia datang dengan 9 orang teolog yang adalah teman-teman saya. Sebelum bishop datang, saya sudah kirim jadwal waktu dan tempat dimana saja dia harus berkunjung. Salah satu acara adalah berjumpa dengan pengurus besar Al-Khaerat Palu. Pada saat tiba untuk berkunjung ke Al-Khaerat sang Bishop bingung dan dia marah besar kepada teman-teman saya yang mendampinginya. Rupanya teman saya yang menerima jadwal dari saya tidak mengatakan kepada Bishop bahwa ada termin berkunjung ke organisasi Islam paling besar di Sulawesi-Tengah. Maklum sang Bishop kita adalah profesor yang konservativ. Dia telah menulis beberapa buku yang rumit dengan warna yang tegas, tidak ada abu-abunya. Sedangkan teman-teman saya adalah petualang-petualang yang doyan meramba wilayah abu-abu.
Karena telah diberitahu pada Bishop bahwa pihak Al-Khaerat telah siap menyambut dengan seluruh pengurus lengkap, mahasiswa sampai anak-anak sekolah.Maka untuk mengatasi situasi yang kacau ini,Bishop memanggil saya bercakap berdua saya. Dia katakan saya ini Bishop, saya ini representasi umat kristen Jerman Selatan,apa yang saya lakukan punya konsekwensi spirit dan politik bagi umat yang dia pimpin. Apa yang harus saya buat katanya. Lalu saya katakan,yang dibutuhkan bapak hanyalah “berjumpa”. Temui mereka,sapa mereka. Mereka juga ingin berjumpa dan menyapa bapak. Jika bapak bertemu mereka maka konsekwensinya akan luas pada tataran spirit dan poltik di Sulawesi-tengah yang panas. Hanya dengan berjumpa, sudah cukup merubah pandangan yang keliru bagi kedua pihak. Berjumpa berarti mau berdamai. Jika perdamaian bisa maju walu hanya setapak, maka kehadiran Bishop dinegeri saya akan relevan.
Akhirnya sang Bishop menyerah, dia mau datang kemarkas besar Al-Khaerat. Disana sudah menunggu pria berpeci, bersorban dan perempuan-perempuan berjilbab dan banyak wartawan. Pertemuan itu sendiri tidak ada diskusi teologi,hanya salam hangat, saling hormat dan banyak ketawanya. Pada akhir pertemuan teman-teman saya baik yang laki-laki dan perempuan memeluk dan mencium saya. Tipuan mereka berhasil. Ada juga seorang perempuan berjilbab datang pada saya sambil menangis, dia hanya mengatakan, terima-kasih terima-kasih.
Kunjungan Bishop ke Palu juga mendapat perhatian pers Jerman, dan Bishop mendapat pujian. Bishop pada akhir kunjungan dikota saya, menjabat erat tangan saya kemudian memeluk saya dan mengatakan, “Saya telah berkunjung banyak bangsa, tapi dikota inilah yang paling berkesan dan sangat berarti.
Leave A Reply