bolahug.jpgBerikut wawancara al-Afkar, Jurnal NU Mesir, dengan Al Makin (editor Indonesianmuslim.com):

 

1.  Beberapa pekan lalu sorak ramai ajang Euro 2008 menggelegar di setiap penjuru dunia. Tidak tanggung-tanggung sorak itu datang dari semua lapisan kelas, sosial, ras dan agama. Uniknya, di tengah laga bola toleransi dan keberagaman dapat berjalan harmonis. Begitu pun spirit  kebersamaan dan sportivitas lebih bisa dinikmati banyak orang. Dari fenomena di atas kami ingin menggali refleksi nilai-nilai tersebut dalam kajian Islam, agar kelak Islam bernasib setara dengan bola yang dielu-elukan umat sedunia? Bagaimana tanggapan Bapak dengan statemen di atas?  Dan adakah hubungan antara keduanya?

 

Jawab:

Ya. Anda betul sekali, bahwa akhir-akhir ini olah raga —seperti bola (soccer/kurrah qadam), hockey, American-football, tennis, bulutangkis, atau cabang-cabang lain di Olimpiade— malah sering kelihatan mendewasakan para penikmatnya. Lihat saja motto, Euro 2008 “against racism”. Begitu juga motto-motto olimpiade, “against discrimination”. Tampaknya olah raga menaruh harapan besar bagi kedewasaan kemanusiaan.

Jangan salah, bahwa olah raga itu bukan sekedar mainan. Olah raga itu, kalau anda lihat “sejarah secara utuh” bukan sejarah “parsial” versi kelompok tertentu, tua sekali. Olah raga setua agama, atau bahkan lebih tua olah raga daripada agama….Olah raga, sebagaimana kepercayaan atau daya-olah pikir atau insting-insting manusia lainnya, adalah inheren dalam diri manusia.

Silahkan baca lanjutannya: clik