Tak terasa, www.indonesianmuslim.com sudah berusia tujuh bulan. Tepat sekali, awal tahu lalu, web ini dibuka pertama. Kalau adat di Jawa, dimana saya dibesarkan, ketika orang hamil mencapai usia tujuh bulan, langsung ada upacara. Upacara tujuh bulanan, yang biasa disebut tingkepan. Menginjak telur, memecah kelapa bergambar Arjuna atau Srikandi, dan membagi-bagikan rujak. Apa sekarang masih ada yang berbuat seperti itu? Atau sudah ada fatwa tentang syiriknya tingkeban? Atau sudah pada pesimis, sudah tidak ada gunanya lagi? Terserahlah.
Ya. Tingkepan. Tujuh bulanan atau apa saja. Sudah wajar, jika usia tujuh bulan ini, kita rayakan. Tentu tidak bisa dengan tahlilan, diba’an, tasyakuran, kendurian, atau makan-makan. Apalagi BBQ-an, kata teman-teman disini, disebut, Grillen. Kenapa, wong ini letaknya di alam maya.
Lalu bagaimana caranya syukuran?
Cukup kita sukuri, bahwa web ini sudah berusia tujuh bulan. Usia baru tingkepan. Usia bayi yang belum lahir. Sama sekali tak ada artinya, ketika bayi di kandungan itu berusia tujuh bulan. Masih belum kelihatan. Masih di kandungan. Masih belum dilahirkan.
Maksudnya apa?
Harus jujur bahwa web kita ini baru mengandung sesuatu yang belum lahir. Mengandung atau hamil. Hamil berasal dari kata Arab hamala, yang artinya membawa. Kalau ibu membawa bayi, maka web ini memendam banyak ide. Ide itu, paling tidak menurut hemat saya, belum lahir. Masih di kandungan. Belum dilahirkan. Baru ada tanda-tanda bahwa bayi ide kita akan lahir.
Cepat lahir dong!
Sabar Mas. Sabar Mas. Saya termasuk yang tidak mau grusa-grusu, agar bayi-bayi ide www.indonesianmuslim.com segera lahir. Saya berusaha sabar. Bayi-bayi ide itu agar matang, jika keluar nanti. Agar jika bayi lahir tidak premature. Tidak kesusu. Tidak asal lahir. Biarlah tetap hamil, tapi mengandung bayi besar, bak Jaka Tingkir, bak Raden Wijaya, bak Sukarno, bak Amin Rais, bak Gus Dur.
Kenapa kok hamil terus? Kapan lahirnya dong?
Sabar. Sabar. Biarlah, saya tunggu. Dengan sabar. Teman-teman yang punya ide di kepala, saya tunggu dengan sabar, agar mau menuliskannya di sini. Agar ide kita lahir jadi anak dan akan berlari mengarungi bahtera kehidupan.
Ya. Ya. Sesuai dengan nama web kita. Kita pengen melahirkan banyak bayi pikiran nantinya. Dulu zaman perjuangan kemerdekaan, banyak yang mengkritik para sesepuh nasionalisme kita. Eh mau memerdekakan tanah air kok bikin jurnal. Eh mau memajukan bangsa kok cuma nulis bikin syair. Tenang! tenang! Semua harus dari ide dulu. Lalu dikeluarkan dan ditularkan sesama. Terus lahirlah sebuah gerakan. Gerakan yang memerdekakan negeri kita.
Kita jaga.
Kita tunggu.
Agar nanti banyak ide yang dilahirkan di web kita ini. Tidak besar. Tidak muluk-muluk. Kirimlah ide Anda.

2 users commented in " Tujuh-bulanan, Tingkepan "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackBung Makin,
Day by day, artikel sampeyan “makin” menarik dan kreatif saja, hehehe. Soal tujuh-bulanan, mitoni dan tingkepan-nya indonesianmuslim, kalo sudah dilaksanakan, saya pingin tahu hasilnya.
Menurut orang jawa yang masih percaya mitos; kalo ritual istri menginjak telur dan suami membasuh kakinya berpengaruh pada sikap anak yang dikandungnya, jika berlangsung sukses, nanti bayi yang dilahirkannya kalo besar menjadi anak gaul, alias mudah bekerjasama dan bersosialisasi. Tapi kalo gak sukses, mungkin bayinya kelak jika besar jadi anak yang kuper.
Terus, kalo ritual memecah dua kelapa, kalo yang pecah yang bergambar arjuna saja; bayinya mungkin berjenis kelamin laki-laki, kalo yang pecah bergambar srikandi saja;berjenis kelamin perempuan, kalo pecah dua-duanya; jenis kelamin bayinya akan sesuai dengan yang diinginkan, sementara kalo gak pecah dua-duanya;jenis kelamin bayinya let us wait and see aja.
And, kalo ritual rujakan dengan bahan 7 rupa segalanya mulai dari buahnya, cabenya dsb; rasa rujak-nya akan berpengaruh pada sifat bayi yang dilahirkannya kelak, apakah itu manis, asem, asin, pahit, hambar, ato rasa NANO-NANO yang: “rame rasanya!!!”.
Pertanyaan saya, bayi yang dikandung indonesianmuslim kelak kalau bener-bener lahir akan seperti apa bung Makin; sikapnya “gaul atau kuper”? jenis kelaminnya “laki-laki atau perempuan”? sifatnya “manis, asem, asin, pahit, hambar ataukah nano-nano?
Hehehehe
Salam,
http://www.suratno77.multiply.com
Univ. Paramadina, Jkt
Terima kasih Bung Ratno,
Iya, Anda benar. Anda masih mengingat tradisi lama kita. Mungkin generasi 90-an sudah lupa.
Anda juga benar, jenis kelamin, watak, keberuntungan, dan juga harapan–menurut tradisi mitoni–sudah bisa dibentuk sejak masa kandungan. Iya. Ingat kan Imam Syafii, menurut riwayat, di kandungan bertahun2. Dari situ juga dibentuk wataknya. Begitu juga, mimpi orang Jawa menunjukkan itu. Mimpi makan rembulan, menggayuh bintang, dan lain-lain akan berpengaruh pada anaknya.
Well, semoga kita semua mimpi makan rembulan sampai habis, sehigga bayi kita ini nanti akan benar2 bermanfaat, berkah, selamat, dan bisa “mencerahkan” sesama.
Saya masih ingat, Ki Damardjati Supajar dulu, waktu sering2nya memberi pepadang: alam akan menentukan. RUmah dekat pohon kelapa akan mendapatkan buah. Cuma apakah kejatuhan digentingnya atau mendapatkan kelapa mudanya, untuk rujakan….
Web, ini taruhlah pohon kelapanya, mohon maaf Ki Damardjati,…..apakah web ini akan kita nikmati buahnya, atau….jangan berharap yg enggak2…buahnya saja, janurnya untuk hiasan, ….
AM
Leave A Reply