Teuku Reiza Yuanda

Artikel singkat ini dibuat untuk memperingati 4 tahun bencana gempa bumi  dan tsunami di pesisir barat Aceh dan pulau Nias

UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, Pasal 1, Ayat 9 mendefinisikan mitigasi bencana sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia (human-induced disaster).

Dalam  penerapannya di Indonesia, mitigasi bencana lebih ditekankan ke arah manajemen kebencanaan, yaitu pada ‘saat’ dan ‘setelah (pasca)’ terjadinya bencana. Sedangkan  pada tahap ‘sebelum (pra)’ bencana masih terbatas pada tahapan pencegahan/prevensi, yaitu dengan menghindari pemanfaatan kawasan yang ‘rawan bencana’ untuk dikembangkan sebagai kawasan aktivitas. Selain itu, kebijakan nasional penanggulangan bencana yang ada saat ini masih mengandung beberapa kelemahan dalam hal tingkat implementasi ke segala lapisan masyarakat di Indonesia yang mempunyai keadaan sosio-ekonomi beragam. Akibatnya masyarakat yang tidak mempunyai pengetahuan memadai akan kebencanaan akan sangat rentan ketika menghadapi bencana dan tidak mempunyai kemampuan adaptasi untuk pulih kembali pada saat pasca bencana. Ditambah, tingkat penerimaan dan pengetahuan masyarakat tentang kearifan lokal (local knowledge) semakin menurun, dimana kearifan lokal tersebut memberikan pemahaman dan panduan dalam lingkup “tradisi” bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk pengetahuan ciri-ciri bencana dan larangan melakukan kegiatan yang merusak lingkungan atau keseimbangan ekosistem.

Dalam program rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh, selain melakukan pemetaan dan karakterisasi sumber daya alam sebagai salah satu elemen sistem pendukung keputusan (decision support system), BGR (German Federal Institute for Geosciences and Natural Resources) juga memberikan sosialisasi tahapan pra-bencana kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dan ketahanan masyarakat (communities preparedness and resilience) terhadap potensi bencana dalam jangka waktu pendek dan panjang. Materi sosialisasi atau pembekalan kepada masyarakat yang diberikan adalah bahan yang sifatnya sederhana, mudah dibuat, dan menarik perhatian. Antara lain berupa ’safety rules’ dalam menghadapi bahaya gempa bumi dan tsunami. Untuk siswa-siswa usia sekolah dasar, diberikan buku bimbingan dan poster kartun praktis dan sistematis dalam menghadapi gempa bumi dan tsunami. Selain interaksi langsung dengan masyarakat, penguatan kelembagaan, baik pemerintah dan masyarakat, merupakan faktor kunci dalam upaya mitigasi bencana. Hal ini merupakan salah satu bentuk komitmen GTZ (German Technical Cooperation Agency) dalam masa tugasnya mendukung program kerja BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) NAD dan Nias.

Penguatan kelembagaan dalam bentuk dalam kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, tindakan gawat darurat, manajemen barak dan evakuasi bencana bertujuan mewujudkan masyarakat yang berdaya sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Upaya lainnya dalam penguatan peran pemerintah daerah dalam kegiatan pra-bencana dapat dilakukan melalui pemberian pelatihan kepada aparatnya yang mencakup pemahaman mengenai kebijakan yang mengatur tentang pengelolaan kebencanaan atau mendukung usaha preventif kebencanaan, selain juga memberikan pelatihan menggunakan perangkat-perangkat sistem peringatan dini berbasiskan komputasi dan elektronik yang juga dibekali dengan kemampuan melakukan koordinasi dengan lembaga antar daerah maupun dengan tingkat nasional, sehingga setiap daerah memiliki rencana penanggulangan bencana berpotensi di wilayahnya. Dalam tahapan selanjutnya pemerintah daerah dapat mengimplementasikan pengetahuan dan keahliannya serta bersinergi dengan masyarakat luas. Salah satunya dengan mensosialisasikan perangkat teknologi sistem pendeteksi dini gempa maupun tsunami yang berada di darat dan lepas pantai, serta simulasi evakuasi massal ketika terjadi bencana. Sehingga pada akhirnya korban jiwa dan kehancuran infrastruktur dalam skala besar dapat diminimalisasi.

Penulis adalah mahasiswa Graduate Program in Marine Geosciences, Universität Bremen, Jerman