<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Taufik Ismail’s Anger against ¼ and ½ Indonesian Women Literary Works</title>
	<link>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html</link>
	<description>Thinking about Islam and Indonesia</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 10:55:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
		<item>
		<title>By: Lusi Lindri</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-73</link>
		<dc:creator>Lusi Lindri</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 21:09:10 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-73</guid>
		<description>Iya tuh... karya perempuan ya biarlah menjadi hak perempuan. Sebaiknya diapreasiasi dengan baik. Bukannya malah dituduh yang tidak-tidak. Memang betul sih kata kawan-kawan. Pak Taufik ini sudah tua. 

Makasih untuk tulisannya. Senang kalau penulis perempuan mendapat sokongan penguatan dan pemberdayaan.

Itu penting untuk kesetaraan jender di Indonesia!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Iya tuh&#8230; karya perempuan ya biarlah menjadi hak perempuan. Sebaiknya diapreasiasi dengan baik. Bukannya malah dituduh yang tidak-tidak. Memang betul sih kata kawan-kawan. Pak Taufik ini sudah tua. </p>
<p>Makasih untuk tulisannya. Senang kalau penulis perempuan mendapat sokongan penguatan dan pemberdayaan.</p>
<p>Itu penting untuk kesetaraan jender di Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Roro Mendut</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-19</link>
		<dc:creator>Roro Mendut</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2008 17:07:36 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-19</guid>
		<description>Halo Micko, saya sudah berselancar di website anda. Bisa juga tulisan anda disumbangkan di website ini. Perlu pula Muslim Indonesia menghargai karya sastra perempuan. Apapun genrenya. Sebagai perwujudan pemberdayaan. Baik yang mengikut tabu, atau melawan tabu, keduanya memperkaya khasanah kesusasteraan Indonesia. 

Jikalau Islam sebagai rahmat seluruh alam. Memberdayakan perempuan penulis, merupakan rahmat bagi Islam pula. Muslim Indonesia, bukanlah Muslim Arab, dan memiliki tradisi yang berbeda dalam meletakkan posisi dan tugas perempuan. Dan Muslim Indonesia harus bangga menjadi dirinya sendiri.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Micko, saya sudah berselancar di website anda. Bisa juga tulisan anda disumbangkan di website ini. Perlu pula Muslim Indonesia menghargai karya sastra perempuan. Apapun genrenya. Sebagai perwujudan pemberdayaan. Baik yang mengikut tabu, atau melawan tabu, keduanya memperkaya khasanah kesusasteraan Indonesia. </p>
<p>Jikalau Islam sebagai rahmat seluruh alam. Memberdayakan perempuan penulis, merupakan rahmat bagi Islam pula. Muslim Indonesia, bukanlah Muslim Arab, dan memiliki tradisi yang berbeda dalam meletakkan posisi dan tugas perempuan. Dan Muslim Indonesia harus bangga menjadi dirinya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ramadhani</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-10</link>
		<dc:creator>Ramadhani</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Jan 2008 15:12:59 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-10</guid>
		<description>sounds balance. rainbow of indonesian women writers is reality, in the first hand. and any of them should be empowered. couldn't be more agree with the essays. Micko's remarks is also important. seems that mr taufik is too overprejudiced. ram/darmstadt.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sounds balance. rainbow of indonesian women writers is reality, in the first hand. and any of them should be empowered. couldn&#8217;t be more agree with the essays. Micko&#8217;s remarks is also important. seems that mr taufik is too overprejudiced. ram/darmstadt.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Micko</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-5</link>
		<dc:creator>Micko</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 07:24:55 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/taufik-ismail%e2%80%99s-anger-against-%c2%bc-and-%c2%bd-indonesian-women-literary-works.html#comment-5</guid>
		<description>Salam mbak Dewi,

Interesting article! particluarly when you question the morality and its relation to the identity construction. In my opinion, both two entities is a becoming thing, the uncomplete project ever after. There are nobody has the proper right to judge both mores and identities, or even no communities in the world. 
But I just imagine, are there male writers who speaks up about the masculine sexual arousal? Why do only female writers write on this kind of theme? I just remember the amazing Gatholoco and Darmogandul.... it was not just funny but fully-filled with social critics and religious critics, particularly to Kiais who has more than two wives.... hehe

Micko</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam mbak Dewi,</p>
<p>Interesting article! particluarly when you question the morality and its relation to the identity construction. In my opinion, both two entities is a becoming thing, the uncomplete project ever after. There are nobody has the proper right to judge both mores and identities, or even no communities in the world.<br />
But I just imagine, are there male writers who speaks up about the masculine sexual arousal? Why do only female writers write on this kind of theme? I just remember the amazing Gatholoco and Darmogandul&#8230;. it was not just funny but fully-filled with social critics and religious critics, particularly to Kiais who has more than two wives&#8230;. hehe</p>
<p>Micko</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
