SEPERTI IBU MALIN

mas-ali.jpgSeperti ibu Malin, ia ingin mengutuk anaknya yang kini kaya dan melupakannya itu menjadi batu. “Aku tak pernah bermimpi melahirkan anak durhaka,” katanya pada diri sendiri. Tetapi ia seorang ibu dan seorang ibu hanya (bisa) menangis, karena luka atau karena terlampau bahagia, dengan tangis yang tak lebih ringan dari tangis yang ia jeritkan, karena luka atau terlampau bahagia, saat melahirkan. Seperti ibu Ismail, ia telah berlari di padang tandus mencari mata air, bertahun-tahun. Ia ingin menangis, memenuhi bumi dangan airmata. Tetapi ia seorang ibu dan seorang ibu takpernah menangis karena haus atau karena sepanjang hidupnya adalah padang tandus.

2008

LIRIK SERIBU DAWAI

Duhai betapa indah hari itu

Saat lembut kasihmu mekarkan bunga di jiwaku

Akulah si buta yang merindu tongkat Musa

Sebutir debu yang merindukan cahaya

Kutegakkan rumah rumah sunyi

Di tengah gemuruh dunia dan peradaban ini

Laut biru puisiku

Langit biru perasaanku

Kutolak semua yang semu dan maya

Seperti kumbang menolak semua selain bunga

Akulah logam keangkuhan yang kini leleh

Membaca ayat ayamu dengan hati sumeleh

Sebatang pohon aku di gurun sahara

Merenungi jejak Musa di bukit Tursina

Kubasuh mukaku

Dengan kisah cinta penuh madu

Kubasuh tangan dan kakiku

Dengan syair dan lagu rindu

Berbaring atau berdiri, mencair atau membatu

Di hatiku seribu dawai berdenting memanggilmu

2006


Penulis adalah penyair Indonesia, tinggal di Montreal, Kanada. Karya-karyanya, kebanyakan puisi, pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Yogya Post, Bernas, Wawasan, Pelita, Hai, Nona, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Waspada dan Gong. Beberapa puisinya juga dapat dibaca dalam antologi puisi Kafilah Angin (l990), Kadar (l99l), Aurora Cinta (l992) yang terbit di Yogyakarta, dan dalam Content Under Pressure ( 2005) dan Selections from the lawn chair soirée (2006)yang terbit di Montreal, Kanada.