Al Makin

almakin1.jpg

Harapan kita adalah semua menikmati suguhan website ini, kerasan di ruang tamu ini, dan akan kembali lagi. Semua hidangan hasil dari olahan dapur teman-teman yang mungkin kita kenal. Tak asing di telinga. Pun, bagi yang bersedia masak sendiri dengan meramu bumbu untuk sajian menu di sini, kita sambut dengan tangan terbuka. Silakan masak. Silakan ambil bagian disini. Silakan bergabung.


Riset-riset yang dilakukan teman-teman Indonesia patut kita apresiasi. Kitalah yang menghargai teman-teman sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi. Saling mengkritisi, saling memberi masukan, saling mengutip, saling mempromosikan, dan kita akan bersama-sama saling mengenal teman kita lebih dekat lewat apa yang telah mereka pikirkan dan lakukan.

Media ini mungkin bisa berfungsi untuk mencuplik riset, proyek, amal, gerakan, dan mungkin arah tulisan Anda dalam jangka panjang. Tunjukkan itu pada teman dan berbagilah ide di sini. Dengan begitu, kita semua berharap, jaringan akan terbentuk. Alternatif, tentu saja: tidak semacam jurnal yang jelas serius dan butuh waktu lama, tidak seperti opini di koran yang selalu harus up to date dengan isu, tidak pula hanya sekedar refleksi pribadi di blog karena ada unsur sharing dan lebih bertanggungjawab. Semua perlu dilakukan, tapi jangan lupa cuplik ide Anda dan suguhkan di ruang ini.

Tidak perlu membedakan apakah tulisan itu dihasilkan oleh mereka yang namanya sudah kesohor ataupun yang baru mulai. Ide akan berbicara disini. Ide akan dilihat dan dikomentari. Terlepas dari siapa dan darimana asalnya. Terlepas dari ideologi apa yang dipeluk. Terlepas produk itu besutan Universitas Amerika, Eropa, Australia, Timur Tengah, ataupun Tanah Air. Semua patut dan layak mendapatkan tempatnya. Disini, paling tidak.

Menilik sejarah, Kartini (bergelung konde Jawa, tersenyum simpul, dibarengi dengan Kardinah) telah menjawab tantangan masanya, sehingga jalan gelap perlu disuluhi dengan ide-ide penerang nan cemerlang sebagaimana tertuang dalam surat-suratnya. Kejawaan (dan mungkin benih-benih keindonesiaan) telah menjadi obor yang terus dinyalakan oleh generasi selanjuntya. Konon, beasiswa yang disediakan untuknya ke Belanda dialihkan ke Agus Salim (sewaktu muda beliau juga gagah dan bisa jadi trendi, namun gambar kita menonjolkan jenggot beliau, jenggot kearifan dan kematangan seorang Muslim Indonesia).

Agus Salim, akhirnya juga bertemu dengan Sukarno. Sukarno muda maupun Sukarno tua. Sukarno muda adalah Sukarno yang masih langsing dan masih malu-malu, dan yang nantinya berteriak „linggis, seterika, atau ganyang!“ dalam pidato dan kepalan tangannya. Lebih gampangnya, Bung Karno Merdeka. Penulis yang bersemangat. Demonstran yang atos. Penggagas ide segar: Marxisme, Islam dan Nasionalisme. Sukarno pendobrak. Sukarno penghasut: anti-Sontolojo!

Obor Agus Salim terus menyala. Tak pernah padam. Terus dinyalakan oleh para pencinta pulau-pulau berderet dari Timur sampai Barat. Obor Sriwijaya, Obor Demak, Obor Mataram, Obor Kutai, dan Obor Indonesia.

Ya. Ya. Jangan lupa Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bung Natsir (lawan debat Sukarno muda). Jangan lupa sekian nama yang menghiasi sejarah dan telah mengejawantah bagaimana Islam dan Indonesia teramu.

Lihat Masjid Isitiqlal. Lihatlah berseberangan dengan Gereja Katedral. Berhadapan dan saling tersenyum. Kadang-kadang pemuda GP Ansor menjaganya, agar senyuman itu tetap disana. Ya, itu para prajurit Gus Dur.

Nah, Ingatlah Nurcholish. Obor itu menyala-nyala di tangan pujangga ini. Pujangga yang dikitari oleh para cantrik dan terus ikut menyalakan kebijaksanaannya.

Tren terus berganti. Dan harus diakui berubah. Dulu wanita bergelung. Sekarang berjilbab. Akankah bergelung lagi? Rindukah kita pada Kartini, Fatmawati, Inggit Garnasih, dan kumpulan foto hitam putih yang berselendang tipis, tersenyum dengan, tak lupa, kebaya Nusantara?

Mari tuangkan ide Anda di sini. Para pendukung web ini, paling tidak, akan sudi membaca tulisan Anda. Sukur lebih banyak lagi.

Salam
Al Makin
Editor Indonesianmuslim.com
nabiy13@yahoo.com