Hasan Muarif Ambary
Kapan pastinya Islam pertama kali masuk ke Pasai, belum diketahui secara pasti, apalagi jika masuknya Islam itu didasarkan kepada mulai adanya masyarakat Islam di sana. Bila kriteria yang dipakai didasarkan pada terbentuknya sistem politik, berupa lembaga kerajaan yang bercorak Islam, dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Pasai terbentuk pada abad ke-13.
Tentang masuknya Islam ke Pasai, Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan bahwa, “Älkisah peri mengatakan cerita yang pertama masuk agama Islam ini Pasai. Maka ada diceritakan oleh orang yang empunya cerita ini negeri yang dibawah angin ini Pasailah yang pertama membawa iman akan Allah dan akan Rasul Allah”.
Sumber informasi ini berasal dari abad ke-15. Sementara itu, sumber informasi dari Dinasti Yuan menyebutkan, bahwa pada tahun 1282, dua utusan dari Su-mu-ta (Samudra) tiba di istana Cina. Berita ini oleh De Jong dipakai sebagai dasar menetapkan bahwa Kerajaan Pasai merupakan suatu kerajaan Islam di Pantai utara Pulau Sumatera yang telah muncul kira-kira sebelum pengiriman utusan tersebut.
Peninggalan arkeologis menunjukan bahwa raja pertama, yang disebut dalam tradisi seperti yang terdapat dalam Hikayat Raja-raja Pasai bernama Merah Silu atau Sultan Malikus Saleh, mangkat pada bulan Ramadhan tahun 696 Hijriah atau 1297 M. Dengan demikian ia disebut sebagai Raja Islam pertama di Kerajaan Pasai itu. Sejarah Malayu menyebutkan bahwa Malikus Saleh Raja Pasai itu, yang sebelum memeluk agama Islam bernama Merah Silu, memakai nama Malikus Saleh setelah ia menjadi penganut Agama Islam. Ia menikahi putri Perlak dan memperoleh dua orang putra, yakni, Malik Al-Zahir dan Malik Al-Mansur.
Peranan penting yang dimainkan Pasai dalam penyebaran Islam ke seluruh Nusantara dimungkinkan karena hubungan itu berkaitan erat dengan kegiatan perdagangan yang didalamnya juga terdapat kegiatan para pedagang yang sekaligus bertindak sebagai pendakwah. Pasai yang terkait dengan kegiatan perdagangan dengan berbagai kerajaan lain di kawasan ini, dengan mudah menggunakan jaringan itu untuk tujuan pengembangan agama Islam.
Sumber informasi dari Dinasti Yuan menyebutkan bahwa pada tahun 1282 Kerajaan Pasai mengirimkan dua orang utusan yang bernama Sulaiman dan Samsuddin ke Istana Kaisar Cina. Informasi ini menunjukan bahwa orang-orang Islam telah menduduki posisi penting dalam pemerintahan di Kerajaan Pasai yang dipimpin Malik Al-Saleh. Kedua orang ini diperkirakan sebagai pedagang Islam yang bermukim atau menduduki posisi penting dalam pemerintahan.
Pada pusat pemerintahan di Pasai, kegiatan keagamaan cukup semarak, hal ini terutama dapat diperlihatkan kehidupan keagamaan di istana. Contoh kongkrit tentang hal ini ialah pada masa pemerintahan Malik Al-Zahir, Ibnu Batulah menyebutkan kunjungannya ke sana pada tahun 1345 dan Sultan yang memerintah ialah Sultan Malik Al-Zahir, seorang raja yang taat kepada ajaran Nabi Muhammad SAW dan baginda senantiasa dikelilingi oleh para ahli agama teologi Islam di antaranya ialah Qadi Syarif Amir Sayyid dari Shiraz, dan Tajal-Din dari Isfahan. Ditinjau dari sudut perkembangan agama Islam, Pasai dapat kita katakan sebagai pusat penyiaran agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.
Salatussalihin atau Sejarah Melayu (edisi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi) menceritakan bahwa di tanah Arab ada seorang alim bernama Maulana Abu Ishak yang sangat paham akan ilmu tasawuf. Ia mengarang kitab Durru’l-Manzum dan mengajarkan isi kitab ini kepada muridnya Abu Bakar. Kemudian muridnya dikirimkannya ke Malaka untuk mengajarkan isi kitab ini kepada muridnya Sultan Malaka Mansyur Syah sangat memuliakan Maulana Abu Bakar dan baginda berguru kepada Maulana itu. Sultan Mansyur Syah mengirimkan kitab itu ke Pasai dan Sultan Pasai diartikan kepada Makhdum Petakan, salah seorang alim di Kerajaan Pasai. Hasilnya diantarkan ke Malaka dan Sultan Mansyur Syah terlalu suka cita melihat kitab itu sudah bermakna. Baginda menunjukkan kitab Durru’l-Manzum yang dikirim dari Pasai kepada Maulana Abu Bakar itu diperkenankan di hati serta dipujinya ulama Pasai itu.
Kisah tentang penerjemah kitab Durru’l-Manzum yang disebut di atas dikutip dari Teuku Ibrahim Alfian, yang selanjutnya juga melukiskan sebuah riwayat yang lain diambil dari Sejarah Melayu, bahwa ketika timbul masalah mengenai “Apakah segala isi syurga itu, kekalkah ia dalam syurga dan segala isi neraka itu, kekalkah ia di dalam neraka”, Sultan Mansyur Syah, mengutus Tun Bija Wangsa untuk bertanya akan masalah itu ke Pasai.
Sultan Pasai bertitah kepada Makhdum Muda untuk menyiapkan jawaban terhadap masalah itu, lalu dibawakan kepada Maulanda Abu Bakar. Sultan Malaka memuji Makhdum dan dua orang sahaya perempuan peranakan Makasar bernama Daeng Bunga dan Daeng Bibah.
Hubungan antara Pasai dengan Malaka dan juga dengan daerah-daerah lain di kawasan Asia Tenggara telah terjalin sejak adanya hubungan perdagangan Selat Malaka. Agama Islam pun mulai dianut di beberapa tempat di Asia Tenggara, terutama di Semenanjung Melayu dan di pesisir utara Pulau Jawa. Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Samudera Pasai dengan Semenanjung Melayu lambat-laun menyebabkan terbentuknya masyarakat muslim di sana, antara lain di Trengganu yang dibuktikan oleh temuan batu bersurat dengan huruf Arab yang berbahasa Melayu. Batu itu bertanggal Jum’at 22 Februari 1303 M.
Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Samudera Pasai dan Malaka jauh sebelum abad ke-15, lambat-laun menyebabkan pula timbulnya masyarakat muslim di Malaka, bahkan juga di kalangan bangsawan atau raja-raja. Raja Malaka yang dikenal sebagai Paramisora mengambil puteri dari Pasai sebagai isterinya, kira-kira pada tahun 1414. Hubungan perdagangan amat dimajukan antara dua kerajaan tersebut. Pada waktu itu pun mata uang emas (dirham) yang sudah dikenal di Samudera Pasai, dikenalkan pula kepada raja dan masyarakat Malaka.
Kejayaan pertama agama Islam di Malaka amat dipengaruhi masuknya Paramisora ke dalam agama Islam. Setelah memperistrikan puteri dari Pasai, ia juga mengubah namanya menjadi Sultan Muhammad Iskandar. Adanya pengaruh yang besar dari Pasai dalam pengislaman Malaka juga dibuktikan bahwa pada waktu Bandar Malaka mulai bangkit dan Pasai mengalami kemunduran, para pedagang Islam, orang-orang Arab maupun India dari Pasai pindah ke Malaka.
Bukti lain tentang pengaruh Pasai terhadap Malaka, ialah dari kisah Sultan Malaka yang selalu menanyakan soal-soal yang pelik dalam agama kepada raja Pasai, seperti telah disebutkan. Pengaruh Pasai juga berlangsung atas Kedah, meskipun Kedah juga berada di bawah kekuasaan Siam. Melalui kedah muballig-muballig Islam dari Pasai menyebarkan agama Islam ke daerah-daerah lain di Semenanjung Melayu, yang terletak lebih ke pedalaman sampai ke Trengganu. Pengaruh Pasai yang telah ada di sebelah utara Semenanjung Melayu juga mengakibatkan besarnya pengaruh terhadap raja-raja Malaka yang pertama, yang mengawini puteri Pasai.
Hubungan antara Pasai dengan daerah-daearah lain di Indonesia seperti Pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Lombok, dan Sumbawa dibuktikan oleh adanya kesamaan bentuk nisan kubur yang terdapat di Pasai dengan daerah-daerah yang disebutkan. Makam Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur misalnya, menunjukkan persamaan dengan makam Nahrasiyah di Pasai dan dengan makam yang ada di Cambay. Pembuktian melalui bentuk makam kuburan seperti yang dijelaskan Hasan Muarif Ambary berhasil memperkuat sumber-sumber hikayat dan berita-berita asing sebelumnya.
Pemberitaan dari jenis hikayat itu, misalnya seperti yang dijelaskan Uka Tjandrasasmita mengenai pengaruh Pasai terhadap Jawa Barat berdasarkan Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari. Dari sumber itu tergambar bahwa tokoh yang mengislamkan Jayakarta dari Banten adalah Fadilah Khan yang berasal dari Pasai. Berdasarkan sumber itulah Uka Tjandrasasmita berkesimpulan bahwa Pasai berperan besar dalam proses pengembangan Islam di pesisir utara Jawa, Jawa Timur sampai Jawa Barat.

No user commented in " Pasai dan Persebaran Islam di Asia Tenggara "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackLeave A Reply