<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Mengelola Sumber Daya Air: Belajar dari Jerman</title>
	<link>http://indonesianmuslim.com/mengelola-sumber-daya-air-belajar-dari-jerman.html</link>
	<description>Thinking about Islam and Indonesia</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 22:57:26 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
		<item>
		<title>By: Adhi Sanjaya</title>
		<link>http://indonesianmuslim.com/mengelola-sumber-daya-air-belajar-dari-jerman.html#comment-113</link>
		<dc:creator>Adhi Sanjaya</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 01:31:08 +0000</pubDate>
		<guid>http://indonesianmuslim.com/mengelola-sumber-daya-air-belajar-dari-jerman.html#comment-113</guid>
		<description>Air minum di Indonesia masih menjadi salah satu medium favorit untuk penyebaran penyakit. Masih tingginya angka kematian anak akibat diare (100,000 balita per tahun - menurut BKKBN 2006; link: http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=721) membuktikan pernyataan tersebut. Kematian bayi dan balita akibat diare kebanyakan disebabkan oleh sulitnya mengakses pelayanan kesehatan (antara lain kendala geografis dan sarana transportasi), rendahnya persepsi orangtua terhadap pemeliharaan kesehatan anak (termasuk higiene &#38; sanitasi, tanda2 bahaya penyakit) dan kurangnya pengetahuan dalam segi pencegahan 'water borne disease' (penyakit menular melalui medium air minum). 

Pendidikan kesehatan sebagai salah satu tindakan promotif untuk menjawab masalah tersebut, tidak akan mampu menurunkan tingkat kematian balita akibat diare dalam waktu singkat. Promosi kesehatan memerlukan proses perubahan pola pikir &#38; perilaku masyarakat dan harus didukung oleh kemudahan aksesibilitas ke sarana pelayanan kesehatan yang memadai. Alternatif tindakan yang dapat dilakukan adalah mencegah masyarakat mengkonsumsi air yang tidak sehat (preventif). 

Setelah membaca artikel di atas dan mengalami sendiri kecanggihan teknologi di Jerman yang mampu menyediakan air layak minum (potable water) langsung dari kran (tap) dengan quality control nyaris sempurna, saya berpikir bagaimana mengatur implementasi teknologi sederhana dan tepat guna untuk menyediakan air bersih yang dekat dengan pemukiman penduduk di desa-desa. 

Kenapa di desa?  

Kejadian kematian bayi / balita akibat diare pada umumnya berlokasi di daerah yang sulit menjangkau pelayanan kesehatan dan dengan tingkat pengetahuan penduduk yang rendah akan sanitasi dan kesehatan. Kondisi di atas cocok dengan profil wilayah pedesaan di Indonesia. Lebih cocoknya lagi adalah gambaran desa-desa yang terletak di luar Pulau Jawa. Sudah menjadi opini umum bahwa tingkat kesehatan penduduk Indonesia lebih rendah di desa-desa. 

Penyediaan air bersih yang selama ini dijalankan di tingkat kecamatan ataupun pedesaan umumnya adalah pipanisasi: mendekatkan sumber air ke konsumen. Asumsi yang dipakai adalah (sudah disarankan bahwa) air minum akan dimasak dulu sebelum dikonsumsi. Dengan demikian kualitas air yang disalurkan melalui pipa ke desa-desa / dusun-dusun tidaklah terlalu diperhatikan. Penapisan air hanya dilakukan secukupnya agar air yang keluar di ujung pipa terlihat jernih, tidak berbau dan tidak berasa (minimum standard quality control). 

Yang terjadi adalah anak-anak senang bermain dengan air. Mereka senang mandi di pancuran, dan sekalian juga minum air langsung dari outletnya tanpa diproses terlebih dahulu. Hal ini tentunya sulit dicegah oleh para orang tua yang telah terdidik sekalipun. Orang tua dapat memperingatkan anak-anak mereka, namun dalam situasi bermain perilaku anak-anak tidak dapat sepenuhnya dikontrol oleh orang tua. 

Dalam hal ini, akan lebih bijak bilamana air tersebut telah 'diamankan' terlebih dahulu. Pemerintah dapat mengintervensi sisi tersebut dengan menyediakan proses water treatment sederhana sehingga air yang keluar layak dikonsumsi langsung. Unit water treatment tersebut bukan ditempatkan di sumber asal air melainkan pada ujung-ujung pipa yang menyediakan air bersih untuk suatu cluster penduduk. Prosedur ini kemudian dapat dibakukan untuk proyek-proyek pembangunan sarana air bersih di semua desa. 

Karena water treatment berlokasi dekat pada end-user dari suplai air tersebut, maka air dari asal sumber yang sama dapat digunakan untuk kepentingan lain seperti irigasi pertanian dan industri kecil. Dengan demikian dapat dilakukan efisiensi: menggunakan sumber air yang sama untuk berbagai kepentingan. Bisa jadi pemerintah tidak perlu membangun saluran untuk air konsumsi rumah tangga dan saluran irigasi untuk pertanian secara terpisah dari satu sumber. Proyek yang dikerjakan merupakan paket lengkap penyediaan air bersih dan sekaligus sarana irigasi. Tidak perlu dua proyek berbeda. Sisi buruknya, tidak banyak lagi upeti dana proyek yang bisa dinikmati para pejabat pemberi proyek ataupun partai politik. 

Sebagai penutup, tentu saja inisiatif ini tidak bisa berdiri sendiri sebagai obat mujarab (panacea) terhadap masalah kematian balita akibat diare. Perlu dikombinasikan dengan program lainnya seperti promosi cuci tangan, jamban sehat dan kampanye rehidrasi oral (rekomendasi WHO untuk perawatan diare pada anak / balita). 

Hormat saya, 

Djoeroe Soentik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Air minum di Indonesia masih menjadi salah satu medium favorit untuk penyebaran penyakit. Masih tingginya angka kematian anak akibat diare (100,000 balita per tahun - menurut BKKBN 2006; link: <a href="http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=721" rel="nofollow">http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=721</a>) membuktikan pernyataan tersebut. Kematian bayi dan balita akibat diare kebanyakan disebabkan oleh sulitnya mengakses pelayanan kesehatan (antara lain kendala geografis dan sarana transportasi), rendahnya persepsi orangtua terhadap pemeliharaan kesehatan anak (termasuk higiene &amp; sanitasi, tanda2 bahaya penyakit) dan kurangnya pengetahuan dalam segi pencegahan &#8216;water borne disease&#8217; (penyakit menular melalui medium air minum). </p>
<p>Pendidikan kesehatan sebagai salah satu tindakan promotif untuk menjawab masalah tersebut, tidak akan mampu menurunkan tingkat kematian balita akibat diare dalam waktu singkat. Promosi kesehatan memerlukan proses perubahan pola pikir &amp; perilaku masyarakat dan harus didukung oleh kemudahan aksesibilitas ke sarana pelayanan kesehatan yang memadai. Alternatif tindakan yang dapat dilakukan adalah mencegah masyarakat mengkonsumsi air yang tidak sehat (preventif). </p>
<p>Setelah membaca artikel di atas dan mengalami sendiri kecanggihan teknologi di Jerman yang mampu menyediakan air layak minum (potable water) langsung dari kran (tap) dengan quality control nyaris sempurna, saya berpikir bagaimana mengatur implementasi teknologi sederhana dan tepat guna untuk menyediakan air bersih yang dekat dengan pemukiman penduduk di desa-desa. </p>
<p>Kenapa di desa?  </p>
<p>Kejadian kematian bayi / balita akibat diare pada umumnya berlokasi di daerah yang sulit menjangkau pelayanan kesehatan dan dengan tingkat pengetahuan penduduk yang rendah akan sanitasi dan kesehatan. Kondisi di atas cocok dengan profil wilayah pedesaan di Indonesia. Lebih cocoknya lagi adalah gambaran desa-desa yang terletak di luar Pulau Jawa. Sudah menjadi opini umum bahwa tingkat kesehatan penduduk Indonesia lebih rendah di desa-desa. </p>
<p>Penyediaan air bersih yang selama ini dijalankan di tingkat kecamatan ataupun pedesaan umumnya adalah pipanisasi: mendekatkan sumber air ke konsumen. Asumsi yang dipakai adalah (sudah disarankan bahwa) air minum akan dimasak dulu sebelum dikonsumsi. Dengan demikian kualitas air yang disalurkan melalui pipa ke desa-desa / dusun-dusun tidaklah terlalu diperhatikan. Penapisan air hanya dilakukan secukupnya agar air yang keluar di ujung pipa terlihat jernih, tidak berbau dan tidak berasa (minimum standard quality control). </p>
<p>Yang terjadi adalah anak-anak senang bermain dengan air. Mereka senang mandi di pancuran, dan sekalian juga minum air langsung dari outletnya tanpa diproses terlebih dahulu. Hal ini tentunya sulit dicegah oleh para orang tua yang telah terdidik sekalipun. Orang tua dapat memperingatkan anak-anak mereka, namun dalam situasi bermain perilaku anak-anak tidak dapat sepenuhnya dikontrol oleh orang tua. </p>
<p>Dalam hal ini, akan lebih bijak bilamana air tersebut telah &#8216;diamankan&#8217; terlebih dahulu. Pemerintah dapat mengintervensi sisi tersebut dengan menyediakan proses water treatment sederhana sehingga air yang keluar layak dikonsumsi langsung. Unit water treatment tersebut bukan ditempatkan di sumber asal air melainkan pada ujung-ujung pipa yang menyediakan air bersih untuk suatu cluster penduduk. Prosedur ini kemudian dapat dibakukan untuk proyek-proyek pembangunan sarana air bersih di semua desa. </p>
<p>Karena water treatment berlokasi dekat pada end-user dari suplai air tersebut, maka air dari asal sumber yang sama dapat digunakan untuk kepentingan lain seperti irigasi pertanian dan industri kecil. Dengan demikian dapat dilakukan efisiensi: menggunakan sumber air yang sama untuk berbagai kepentingan. Bisa jadi pemerintah tidak perlu membangun saluran untuk air konsumsi rumah tangga dan saluran irigasi untuk pertanian secara terpisah dari satu sumber. Proyek yang dikerjakan merupakan paket lengkap penyediaan air bersih dan sekaligus sarana irigasi. Tidak perlu dua proyek berbeda. Sisi buruknya, tidak banyak lagi upeti dana proyek yang bisa dinikmati para pejabat pemberi proyek ataupun partai politik. </p>
<p>Sebagai penutup, tentu saja inisiatif ini tidak bisa berdiri sendiri sebagai obat mujarab (panacea) terhadap masalah kematian balita akibat diare. Perlu dikombinasikan dengan program lainnya seperti promosi cuci tangan, jamban sehat dan kampanye rehidrasi oral (rekomendasi WHO untuk perawatan diare pada anak / balita). </p>
<p>Hormat saya, </p>
<p>Djoeroe Soentik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
