Americhanto
Air adalah sumber kehidupan manusia. Di Indonesia sumber air sebenarnya sangat berlimpah. Namun sayangnya, air di Indonesia belum dikelola dengan baik. Tidak mengherankan jika pemerintah sampai saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan air yang layak bagi masyarakat. Untuk membahas Pengelolaan Sumberdaya Air di Indonesia, berikut bincang-bincang Tegas Prasojo (TP) dengan praktisi air, Americhanto (A).
TG: Bagaimana pengalaman Anda selama mengikuti program training di Jerman?
A: Saya mengikuti praktikum di ESWE institut Wiesbaden, dibawah naungan Universitas Mainz. Selama praktikum, saya bekerja di dua lokasi. Pertama di laboratorium pengujian kualitas air di ESWE Institut Wiesbaden dan selanjutnya saya berkecimpung di Pusat Pengolahan Air pada perusahaan air minum Hessenwasser GmBh di Kota Darmstadt. Di sini, saya mempelajari water manegement (pengelolaan air) yang terdiri dari pengelolaan sumber baku air, treatment air dari sumber baku, pendistribusian air, kualitas kontrol mutu air, dan protection environment untuk sumber baku air.
TG: Pelajaran apa saja yang Anda dapatkan?
A: Banyak. Tapi menurut saya yang paling menarik adalah hasil akhir dari sistem manajemen air yang berupa air yang dapat dikonsumsi langsung (trinkable) oleh konsumen. Ada dua faktor yang menyebabkan hal itu dapat terjadi. Pertama, di Jerman ini, proses quality management sangat ketat diterapkan, mulai dari sumber air baku, pemrosesan, dan pendistribusian ke konsumen. Yang kedua, juga ada keterlibatan masyarakat dalam perlindungan sumber air baku sehingga kelestarian lingkungan sumber daya air (environmental protection) sangat dipertimbangkan. Inilah yang membedakan proses pengelolaan air di Jerman dengan di Indonesia, walaupun, secara garis besar, proses pengelolaannya sebenarnya sudah hampir sama.
TG: Misalnya bagaimana?
A: Tidak ada perusahaan yang membuang langsung limbahnya di sungai. Mereka biasanya sudah memiliki system pengolahan limbah sendiri. Selain itu, pihak perusahaan pengelola air minum juga melakukan pengontrolan kualitas air di sungai secara rutin. Sementara, kesadaran masyarakat terhadap arti pentingnya sungai yang bersih juga sudah tinggi. Dengan demikian, semua pihak memperhatikan sustainability sumber air baku. Jadi mereka tidak saja memanfaatkan air baku, tapi sekaligus juga berfikir untuk tidak menghabiskannya. Dengan kata lain, di sini tidak ada pengeksploitasian air baku secara berlebihan.
TG: Bisa Anda ceritakan sedikit tentang proses pengolahan air minum di Jerman?
A: Perusahaan pengelola air minum pada umumnya mengambil air baku dari sungai. Kemudian dilakukan proses treatmen, yang meliputi proses sedimentasi dan koagulasi (pengendapan kotoran), Khorinisasi, filterisasi, dan lain-lain. Hasilnya kemudian mereka injeksikan kembali kedalam tanah. Dari air tanah inilah air minum kemudian ditreatmen ulang. Baru setelahnya, air didistribusikan ke konsumen.
TG: Wah kalau begitu rumit ya?
A: Memang prosesnya agak rumit dan butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi, dilihat dari segi kualitas air yang dihasilkan dan dari segi proteksi lingkungan, proses seperti ini sangat bagus. Makanya harga air di Jerman ini lebih mahal ketimbang harga air di Indonesia.
TG: Apakah proses pengelolaan air yang baik juga dapat diterapkan di Indonesia?
A: Dilihat dari sumber daya manusia, sumber daya alam (air baku) dan juga teknologi, sebenarnya tidak ada masalah. Namun sayangnya di Indonesia belum ada komitmen dari semua pihak untuk mengelola air dengan benar. Masyarakat kita belum punya
kesadaran untuk menjaga kebersihan sumber air. Dari segi pemerintah, meskipun sudah banyak aturan tentang pengelolaan air di Indonesia, tapi regulasi itu belum dijalankan dengan benar.
TG: Bagaimana proses yang ada di PDAM saat ini di Indonesia?
A: Setahu saya, PDAM sudah memiliki standar pengelolaan air yang baik. Tapi implementasinya yang perlu lebih konsistensi lagi. Tidak mengherankan jika seringkali PDAM mengambil air dari air sungai yang jelas-jelas tercemar. Di sisi yang lain, kalau PDAM mengambil air langsung dari sumber air tanah, biasanya sumber air tanah pun sudah tercemar. Makanya, untuk menghasilkan air minum yang baik di Indonesia masih banyak yang perlu kita pikirkan dan lakukan.
———-
Americhanto adalah salah seorang peserta Professional Training Program InWent Bidang Water Research and Water Technology (Sponsored by Bundesministerium fuer wirtschaftliche Zusammenarbeit und Etnwicklung (BMZ) Deutschland). Setelah menjadi peneliti di PAU ITB, karirnya berlanjut di TOTAL Indonesie, PT Bayern Indonesia Tbk, dan Plant Manager di sebuah perusahaan air minum dalam kemasan. Bisa dihubungi lewat email: americhanto@yahoo.com

1 user commented in " Mengelola Sumber Daya Air: Belajar dari Jerman "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackAir minum di Indonesia masih menjadi salah satu medium favorit untuk penyebaran penyakit. Masih tingginya angka kematian anak akibat diare (100,000 balita per tahun - menurut BKKBN 2006; link: http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=721) membuktikan pernyataan tersebut. Kematian bayi dan balita akibat diare kebanyakan disebabkan oleh sulitnya mengakses pelayanan kesehatan (antara lain kendala geografis dan sarana transportasi), rendahnya persepsi orangtua terhadap pemeliharaan kesehatan anak (termasuk higiene & sanitasi, tanda2 bahaya penyakit) dan kurangnya pengetahuan dalam segi pencegahan ‘water borne disease’ (penyakit menular melalui medium air minum).
Pendidikan kesehatan sebagai salah satu tindakan promotif untuk menjawab masalah tersebut, tidak akan mampu menurunkan tingkat kematian balita akibat diare dalam waktu singkat. Promosi kesehatan memerlukan proses perubahan pola pikir & perilaku masyarakat dan harus didukung oleh kemudahan aksesibilitas ke sarana pelayanan kesehatan yang memadai. Alternatif tindakan yang dapat dilakukan adalah mencegah masyarakat mengkonsumsi air yang tidak sehat (preventif).
Setelah membaca artikel di atas dan mengalami sendiri kecanggihan teknologi di Jerman yang mampu menyediakan air layak minum (potable water) langsung dari kran (tap) dengan quality control nyaris sempurna, saya berpikir bagaimana mengatur implementasi teknologi sederhana dan tepat guna untuk menyediakan air bersih yang dekat dengan pemukiman penduduk di desa-desa.
Kenapa di desa?
Kejadian kematian bayi / balita akibat diare pada umumnya berlokasi di daerah yang sulit menjangkau pelayanan kesehatan dan dengan tingkat pengetahuan penduduk yang rendah akan sanitasi dan kesehatan. Kondisi di atas cocok dengan profil wilayah pedesaan di Indonesia. Lebih cocoknya lagi adalah gambaran desa-desa yang terletak di luar Pulau Jawa. Sudah menjadi opini umum bahwa tingkat kesehatan penduduk Indonesia lebih rendah di desa-desa.
Penyediaan air bersih yang selama ini dijalankan di tingkat kecamatan ataupun pedesaan umumnya adalah pipanisasi: mendekatkan sumber air ke konsumen. Asumsi yang dipakai adalah (sudah disarankan bahwa) air minum akan dimasak dulu sebelum dikonsumsi. Dengan demikian kualitas air yang disalurkan melalui pipa ke desa-desa / dusun-dusun tidaklah terlalu diperhatikan. Penapisan air hanya dilakukan secukupnya agar air yang keluar di ujung pipa terlihat jernih, tidak berbau dan tidak berasa (minimum standard quality control).
Yang terjadi adalah anak-anak senang bermain dengan air. Mereka senang mandi di pancuran, dan sekalian juga minum air langsung dari outletnya tanpa diproses terlebih dahulu. Hal ini tentunya sulit dicegah oleh para orang tua yang telah terdidik sekalipun. Orang tua dapat memperingatkan anak-anak mereka, namun dalam situasi bermain perilaku anak-anak tidak dapat sepenuhnya dikontrol oleh orang tua.
Dalam hal ini, akan lebih bijak bilamana air tersebut telah ‘diamankan’ terlebih dahulu. Pemerintah dapat mengintervensi sisi tersebut dengan menyediakan proses water treatment sederhana sehingga air yang keluar layak dikonsumsi langsung. Unit water treatment tersebut bukan ditempatkan di sumber asal air melainkan pada ujung-ujung pipa yang menyediakan air bersih untuk suatu cluster penduduk. Prosedur ini kemudian dapat dibakukan untuk proyek-proyek pembangunan sarana air bersih di semua desa.
Karena water treatment berlokasi dekat pada end-user dari suplai air tersebut, maka air dari asal sumber yang sama dapat digunakan untuk kepentingan lain seperti irigasi pertanian dan industri kecil. Dengan demikian dapat dilakukan efisiensi: menggunakan sumber air yang sama untuk berbagai kepentingan. Bisa jadi pemerintah tidak perlu membangun saluran untuk air konsumsi rumah tangga dan saluran irigasi untuk pertanian secara terpisah dari satu sumber. Proyek yang dikerjakan merupakan paket lengkap penyediaan air bersih dan sekaligus sarana irigasi. Tidak perlu dua proyek berbeda. Sisi buruknya, tidak banyak lagi upeti dana proyek yang bisa dinikmati para pejabat pemberi proyek ataupun partai politik.
Sebagai penutup, tentu saja inisiatif ini tidak bisa berdiri sendiri sebagai obat mujarab (panacea) terhadap masalah kematian balita akibat diare. Perlu dikombinasikan dengan program lainnya seperti promosi cuci tangan, jamban sehat dan kampanye rehidrasi oral (rekomendasi WHO untuk perawatan diare pada anak / balita).
Hormat saya,
Djoeroe Soentik.
Leave A Reply