Andar Nubowo
Pemerintah Indonesia sedang mempromosikan program pariwisata Visit Indonesia Year 2008. Promosi ini patut mendapatkan dukungan semua pihak. Mengingat dunia pariwisata Indonesia, paska tragedi Bali Blast 2002 dan 2005 serta horor tragedi kekerasan lainnya, terus merosot tajam. Hal ini terkait dengan kondisi keamanan dalam negeri yang cenderung fluktuatif dan citra Indonesia di luar negeri yang jauh dari positif. Sebagai negara mayoritas muslim, citra Islam Indonesia di luar negeri hingga kini masih negatif. Selain masih dianggap belum bisa melepaskan dari karakternya yang tidak ramah dan suka marah, Islam Indonesia masih diyakini sangat dekat dengan islamisme radikal pengusung budaya kekerasan.
Padahal, berdasarkan temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI), mayoritas muslim Indonesia (80, 7%) adalah muslim ramah, moderat, dan benci dengan segala bentuk kekerasan. Hanya 9 persen muslim Indonesia yang bersimpati pada tindakan kekerasan dan fundamentalisme. Dengan demikian, sudah tepatlah apabila kampanye Islam Indonesia yang ramah terus digalakkan sebagai bagian dari program pariwisata Indonesia 2008. Jangan sampai « setetes air tuba merusak susu sebelanga ».
Islam Indonesia, Bukan Islam Marah
Islam Indonesia adalah jenis Islam yang lahir dari persenyawaan prinsip-prinsip universal Islam dengan lokalitas keindonesiaan. Islam Indonesia hadir untuk menjadi solusi bagi problem bangsa Indonesia melalui pendekatan khas Indonesia. Islam Indonesia mengurai masalah bukan menambah. Islam Indonesia bercirikan relijiusitas yang ramah dan rahmah bagi semesta, manusia dan lingkungan sekitar.
Islam Indonesia dapat terlihat pada individu dan kelompok. Pada tataran jamaah, jenis Islam Indonesia manifes dalam organisasi massa Islam yang berhasil memanusiakan insan Indonesia. Organisasi semacam ini tumbuh dan berkembang dalam rahim kultur Indonesia. Ia tidak silau dan tidak merasa rendah diri dengan ormas atau paham Islam di Negara tetangganya. Ia mempunyai karya khas yang bisa ditawarkan. Muhammadiyah (berdiri 18 November 1912) dan Nahdlatul Ulama (berdiri 31 Januari 1926) dapat disebut sebagai representasi sejati genre Islam Indonesia ini.
Sayang, ciri ramah dan rahmah (meminjam terma Robert W. Hefner) dari ormas terbesar Islam ini makin berkurang peminatnya. Jenis Islam Indonesia ini dianggap tidak murni, terlalu akomodatif, dan kurang radikal dalam memperjuangkan apa yang mereka sebut dengan syariat Islam. Karena itulah, propaganda neofondamentalisme, salafisme, integrisme, dan khilafatisme yang datang dari kawasan lain terasa lebih menggairahkan. Hal ini tercermin dari munculnya gerakan-gerakan kultural dan politik Islam yang bersikeras mengganti wajah Islam Indonesia yang ramah dengan wajah « marah ».
Model Islam yang terakhir inilah yang memenangkan kontestasi Islam saat ini. Islam jenis ini berhasil menarik generasi muda yang tinggal di pusat-pusat peradaban modern (kota, kampus). Mereka adalah generasi yang tersingkir dari modernitas. Selain karena problem sosial, ekonomi, kultur dan politik, sebagaimana diungkap Olivier Roy dalam Islam mondialisé (2002), mereka adalah orang yang pengetahuan agamanya sangat minim. Bagi mereka, sambung Roy, le retour religieux, kembali kepada agama (Islam), adalah manifestasi dari pembentukan kembali identitas keagamaan.
Namun demikian, Andrée Feillard, pakar Islam Indonesia di CNRS Perancis, optimis bahwa Islam Indonesia jauh lebih lembut, toleran dan terbuka daripada corak Islam di kawasan Timur Tengah atau maghribian misalnya. Sebab, kultur padang pasir yang ganas, kerontang, dan penuh kekerasan, seperti galib terjadi di kawasan Timur Tengah dan maghribian, tentu saja, kontras dengan kultur Nusantara yang gemah ripah loh jinawi. Tumbuhan kaktus tak mungkin cocok dibudidayakan di ladang gembur dan subur. Jikapun tumbuh, pasti melalui rekayasa genetika. Dan, setiap rekaya genetika pasti menjumbuhkan patologi dan mengundang bahaya tak terperikan.
Diplomat dan Muslim Rantau
Di tengah hiruk pikur arus globalisasi yang turut mendorong fenomena mondialisasi Islam, masyarakat muslim Indonesia di luar negeri, baik yang bekerja atau belajar, sebenarnya adalah agen yang sangat tepat dalam mengkampanyekan Islam yang damai dan santun. Selain muslim yang bekerja atau mahasiswa, peran diplomat-diplomat indonesia dalam mengkampanyekan Islam Indonesia juga sangat strategis.
Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berkali-kali mengusulkan supaya para diplomat Indonesia yang bertugas di luar negeri dibekali pengetahuan tentang wajah Islam Indonesia yang anti kekerasan, humanis dan santun. Hal ini mengingat, perwakilan Indonesia di luar negeri adalah jendela Indonesia yang sangat menentukan dalam membangun citra Indonesia di mata internasional.
Jika sekarang ini para diplomat lebih menekankan aspek ekonomi, politik, dan budaya, maka pengenalan terhadap Islam yang santun, damai, dan anti kekerasan perlu digalakkan mengingat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari komposisi penduduknya yang mayoritas muslim. Kampanye Islam khas Indonesia ini adalah alternatif di antara bentuk dan corak Islam yang datang dari Timur Tengah, Asia Tengah atau kawasan maghribian yang dekat dengan militantisme dan radikalisme atas nama Islam.
Begitu juga dengan para perantau muslim Indonesia di luar negeri, baik para pelajar maupun pekerja. Mereka harus turut aktif mengkampanyekan model Islam Indonesia yang santun. Pertemuan-pertemuan keagamaan (pengajian, halaqah, majlis taklim) yang diorganisir oleh masyarakat muslim Indonesia adalah wahana yang tepat untuk menggerakkan kampanye Islam Indonesia yang santun dan cinta damai. Sayangnya, pada level faktual, banyak perkumpulan keagamaan tersebut yang beralih fungsi atau dialihfungsikan sebagai perjumpaan (point de rencontre) dan persemaian ideologi Islam yang keras berlabel spirit integrisme, salafisme, dan neofondamentalisme serta khilafatisme.
Tidak mengherankan lagi, ketika tak sedikit perantau muslim Indonesia yang kembali ke tanah air malah aktif memburamkan agama Islam dengan paham Islam yang « marah », bukan islam yang « ramah ». Amrozi cs adalah contoh yang tepat muslim rantau yang mengimpor budaya kekerasan begitu tiba di negeri sendiri. Padahal, jika rasa percaya diri mereka besar, mereka akan dengan bangga menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa “Islam (Indonesia) yang ramah yes, Islam marah no !” Mereka inilah hambatan sejati bagi bangkitnya ekonomi dan pariwisata Indonesia.
Keberhasilan dalam mempromosikan Islam Indonesia yang ramah berbanding lurus dengan suksesnya promosi Visit Indonesia Year 2008. Semoga
———-
Penulis adalah mahasiswa Filsafat Politik Ecole des hautes études en sciences sociales (EHESS) Paris France

No user commented in " Islam Indonesia dan Visit Indonesia Year 2008 "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackLeave A Reply