Azyumardi Azra
Pengantar Buku karangan Riaz Hassan
“Keragaman Iman: Studi Komparatif Masyarakat Muslim”
Jakarta: Rajawali Press, 2006
Sebaliknya, meskipun Indonesia kerap kali disebut sementara kalangan sebagai Negara “sekular”, kepercayaan masyarakat terhadap pimpinan agama sangat tinggi, jauh lebih tinggi ketimbang kepercayaan pada media massa apalagi pada lembaga Pemerintah umumnya. Kenapa demikian? Salah satu temuannya menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap lembaga agama berasosiasi dengan kepercayaan terhadap institusi-institusi kunci Negara. Dengan kata lain, semakin tinggi kepercayaan masyarakat terhadap institusi public, semakin tinggi pula kepercayaan mereka terhadap lembaga agama. Dengan demikian, kita bisa melihat betapa dinamika sosial dan politik jauh lebih berpengaruh terhadap hubungan antara ulama dan umatnya dibandingkan dengan dinamika cultural atau agama.
Temuan penting lain yang memaksa kita berpikir ulang adalah peran perempuan dalam wilayah publik. Selama ini kita sering beranggapan bahwa semakin Islamis sebuah masyarakat semakin rendah pula dukungannya terhadap perempuan untuk berkiprah di luar rumah. Ternyata asumsi ini sulit dipertahankan, karena dukungan terhadap peran perempuan tidak ditentukan kesalehan agama maupun tingkat modernisasi (sekularisasi) masyarakat.
Indonesia menduduki peringkat teratas, disusul kemudian oleh Kazakhstan, Pakistan, dan Mesir. Jika masalahnya sekularisasi, Kazakhstan seharusnya paling tinggi tingkat dukungannya, dan jika faktor ideology yang terpenting, Pakistan seharusnya berada pada peringkat terbawah.
Analisis lanjutan menemukan faktor lingkungan sosial setempat memainkan peran sangat besar. Baik Pakistan maupun Mesir sama-sama tumbuh sebagai masyarakat tradisional yang kuat mengadopsi sistem patriarchal Timur Tengah. Meskipun Kazakhstan pernah menjadi bagian dari geokultural ini, revolusi komunis telah mentransformasikan Negara tersebut menjadi bagian dari masyarakat modern seperti negara-negara bekas Uni Soviet lain.
Indonesia tidak pernah mengalami Arabisasi total dan proses modernisasi di Negara ini cukup berjalan pesat. Ditambah kuatnya peran organisasi keagamaan lokal, khususnya Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah, dalam mensinergikan budaya asing dan lokal, dukungan terhadap peran perempuan menjadi demikian tinggi.
Kajian terhadap beberapa kasus di atas hanyalah sedikit contoh yang menyadarkan kita untuk tidak terburu-buru membuat kesimpulan tentang Islam dan masyarakat Muslim. Tidak ada garis linear yang langsung menghubungkan antara doktrin Islam dengan seluruh perilaku Muslim.
Tidak juga tepat mereduksi praktik sosial Muslim semata-mata dalam kotak-kotak politik, ekonomi, pendidikan maupun budaya. Masing-masing variabel tersebut memiliki dinamika tersendiri yang jika bersentuhan dengan variabel lain akan memproduksi pola-pola tertentu. Hal ini bukan berarti semuanya relatif atau keragaman masyarakat Muslim sama sekali tidak berkaitan satu sama lain.
Buku ini menunjukkan bahwa keberadaan “umat Islam” lebih merupakan realitas ketimbang mitos atau ideal type. Secara signifikan mereka berbagi kesamaan dalam sikap, pemikiran maupun tindakan atas berbagai macam persoalan. Meskipun demikian, yang kita perlukan adalah kajian terhadap masalah-masalah Islam secara lebih spesifik daripada membuat pernyataan-pernyataan umum tanpa disertai analisis rinci dan terukur. Buku ini telah mengawali upaya tersebut dengan sangat baik, dan kita berharap langkah ini dapat dilanjutkan dalam skala lebih luas.
Lihat bagian 1 tulisan ini di sini.
———
Azyumardi Azra adalah Guru Besar Sejarah Islam, dan Direktur Sekolah Pascasarjana, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

No user commented in " Islam dan Muslim: Perspektif Sosiologis (bag. 2/2) "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackLeave A Reply