evolusi1.gifPada suatu sore, di Friedrichfeld Süd Mannheim, Al Makin (AM) dan Tegas Prasojo (TP) merenung. Kali ini AM bertanya ke TP tentang Teori Evolusi.

AM: Kalau boleh tahu mohon diterangkan, Anda sebagai peneliti di bidang ini di Universitas Jerman, apakah Teori Evolusi itu masih dipegang di bidang Biologi?

TP: Secara garis besar, teori itu masih dipegang. Tapi sudah tidak seperti yang diungkapkan oleh Charles Darwin waktu itu. Karena sudah banyak mengalami perkembangan dengan teori itu. Terutama sekali, berkait dengan penemuan DNA (Deoxyribonucleic acid/b. Indonesia Asam deoksirebosa), teori Evolusi bisa lebih mudah difahami terkait dengan prosesnya melalui substansi yang disebut DNA ini.

AM: Apakah masyarakat Indonesia sudah memahami ini?
TP: Saya rasa kalau yang sudah pernah belajar Biologi di selevel SMA/SMU, setidaknya mereka itu faham apa itu Evolusi. Namun, sejak publikasi tulisan-tulsian popular, seperti yang dilakukan oleh Harun Yahya (penulis popular dari Turki), banyak orang yang kemudian menganggap teori ini, salah, atau lebih tepatnya seratus persen salah. Sehingga, kebanyakan orang kembali memandang proses kehidupan ini, jadi ya, seperti ini-ini sejak diciptakan. Tetap begini saja dari dulu hingga sekarang. Statik! Padahal, proses yang berlangsung dalam hidup dan kehidupan di bumi ini tidak sesederhana yang kita dibayangkan.

AM: Bagaimana cara Anda, sebagai peneliti dalam bidang ini, memahamkan orang tentang hal ini?
TP: Mungkin orang harus dibuat terbuka mata hatinya bahwa proses yang terjadi di alam sekitar ini, walaupun tidak bisa kita lihat dan rasakan secara kasat mata, tidak lah sederhana. Prinsipnya: tidak kelihatan dan tidak terfahami bukan berarti tidak ada. Demikian juga halnya dengan proses rumit Evolusi. Satu hal yang jelas, proses Evolusi itu sangat lambat. Berjuta-juta tahun.

Kita cukup beruntung, saat ini, proses itu bisa diketahui dengan analisa atau perbandingan struktur gen atau gene dari makhluk hidup yang ada sekarang. Perubahan dan perbedaan antar generasi atau antar kelompok itu sangatlah kecil. Paling tidak jika dihitung dalam sekala waktu menurut kita. Misalnya dalam ukuran umur manusia (60 tahun), maka Evolusi dalam gen itu masih belum kelihatan. Singkat kata, ini tidak kasat mata (perkara ghaib). Tapi satu hal yang harus disadari bahwa hal yang sangat lambat itu tetap mengalami perubahan. Coba bayangkan, dulu (dulu sekali, misalnya satu juta tahun yang lalu), alam dan kehidupan ini tidak sama jika dibandingkan dengan kondisi sekarang ini.

Cuma permasalahan yang timbul adalah orang menganggap teori Evolusi itu bermasalah atau malah sumber masalah. Misalnya, kadang orang bertanya, Adam itu berasal darimana? Hasil Evolusi dari makhluk apa? Dari kera, monyet, atau makhluk lain?

Itu masalah yang sering dijadikan pemukul telak bagi teori Evolusi. Evolusi, dengan begini, ditolak. Evolusi tidak benar.

AM: Menurut Anda bagaimana kisah Adam ini, sebagai seorang Biolog?
TP: Wah ini sekedar kira-kira lo Mas. Bisa dikatakan seperti ini: Adam itu mungkin merupakan suatu titik dimana kesadaran sebagai manusia itu mulai dikenal. Bisa jadi, tahap itu adalah tahap perbedaan antara sebagai manusiaan dan kebinatangan.

AM: Jadi proses Evolusi itu jauh lebih rumit dan jauh lebih lama dari ceirta Adam yang kita kenal?
TP: Kalau menurut saya seperti itu lah adanya. Evolusi itu proses rumit, lama, dan dengan ukuran generasi manusia, itu sangat sulit diamati. Beyond manusia lah.

AM: Kira-kira Anda bisa mengatakan angka, berapa lama proses Evolusi?
TP: Kalau angka sulit dijelaskan. Gak mampu kita. Misalnya, kapan Adam ada dan lahir dan pula dia ke dunia. Itu semua, sayangnya, belum bisa dibuktikan secara ilmiyah. Secara sejarah ataupun ilmu lainnya tidak spesifik menyebutkan peristiwa itu.

AM: Gini Mas, kalau, taruhlah Adam dianggap sebagai bagian dari Evolusi, itu kira-kira pada level berapa?
TP: Tentu saja, Adam sebagai manusia, sudah sangat sophisticated. Bayangkan saja begini: Jumlah organisme-organisme kehidupan pada saat Adam ada (tolong bayangkan ini) itu sudah sangat kaya. Jadi kalau saya pribadi dibolehkan beranggapan, taruhlah misalnya, Adam merupakan mata rantai panjang generasi sebelum primata. Dengan begini, bisa jadi kita akan menempatkan kera itu adalah sejenis saudaranya manusia Adam. Dan itu sudah jauh berevolusi, sebagain jadi Adam, sebagain jadi monyet, sebagain mati tak bertahan hidup, dan sebagaian lagi kita tidak tahu nasibnya (missing link).

AM: Gampangnya begini, kira-kira proses Evolusi dari primata awal ke kera atau ke Adam itu membutuhkan berapa juta tahun?
TP: Karena memperkirakan berapa juta tahun itu terkait dengan jumlah data pendukung yang terkumpul, maka semakin kompleks data untuk analisa, akan semakin mendekati akurasi perkiraan tersebut. Tetapi proses itu bisa diperkirakan lima juta tahun yang lalu. Bayangkan juga, berjuta-juta tahun proses permisahan antar spesies juga. Dengan begini, kita bisa membayangkan kira-kira kapan Adam hidup atau mulai ada di dunia ini. Perlu juga diingat, kita harus melakukan analisa ke semua ras yang hidup di dunia saat ini. Dengan begitu, kita bisa tahu ujungnya ketemu di mana. Tentu ini tidak mudah. Analisia seperti ini butuh biaya dan penelitian yang sangat besar.

AM: Bagaimana Anda membayangkan konsep Evolusi Biologi Modern saat ini?
TP: Begini saja, mudahnya. Secara kode DNA manusia dan kera itu hampir bisa dikatakan 80 persen sama. Demikian pula mansuia dengan babi dan anjing, itu lebih dari 50 persen persamaan kode DNA-nya. Ingat, secara DNA lho ya. Perbedaan-perbedaan yang ada sangatlah kecil. Namun perbedaan ini lah yang membentuk struktur tubuh yang kelihatan sangat berbeda.

Dari kenyataan seperti itu, teori Evolusi masih bisa diterima sebagai reasoning (Vernünft/nalar). Dan sekaligus menjelaskan persamaan dan perbedaan antara manusia dan makhluk lain. Antara manusia dan hewan. Perbedaan dan persamaan.

Lebih jelasnya begini:
Semua makhluk hidup di dunia ini struktur pembentuknya sama, yaitu materi organik: protein, lemak, serta DNA. Hingga sampai saat ini belum pernah ditemukan organisme yang memiliki materi penyusun yang berbeda dengan organisme yang lainnya. Contoh seperti makhluk aliens di film-film di Hollywood, itu sulit dibuktikan secara biologis. Intinya: semua mahkluk berasal dari nenek moyang yang sama.

AM: Jadi kita, sebagai manusia, senenek moyang dengan penyu?
TP: Tidak hanya penyu. Semua makhluk hidup dari cacing, kerang, manusia, atau kelelawar. Kita menggunakan dan mengikuti design yang sama.

AM: Jadi sangat sulit menolak teori Evolusi dalam biologi modern dari sudut DNA?
TP: Betul.

Yang perlu ditekankan lagi bahwa selagi belum ada teori yang lebih rasional dari teori Evolusi. Kita masih tetap menggunakan teori itu. Dan teori itu sebagai satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal sampai saat ini. Yaitu, tentang proses terjadinya makhluk hidup di sekitar kita. Kecuali: nantinya ada penemuan-penemua baru, yang lebih bisa menjelaskan proses itu. Mungkin teori Evolusi akan ditinggalkan.

Jadi, kalau pandangan yang mengangap bahwa jumlah hewan dan spesies itu tetap dan tidak berubah itu sulit diterima secara ilmiyah. Dan anggapan statik semacam itu tidak rasional. Lihat dan pelajarilah bahwa bumi itu terus berubah. Lihat juga sejarah kehidupan, ada yang bisa bertahan hidup hingga saat ini dan ada juga yang punah (seperti Dinosaurus). Ada yang mampu bertahan hidup (survival, seperti burung yang merupakan turunan dari Dinosaurus). Perlu diingat pula bahwa yang mampu bertahan itu ternyata bukan yang terkuat, seperti apa kata Darwin.

AM: Kalau boleh tahu, kehidupan ini kausalitas atau aksiden?
TP: Kehidpan ini diciptakan (atau ada) dengan sangat sempurna. Sehingga yang bertahan ya yang mampu beradaptasi. Kemampuan itu sudah dirancang sesuai dengan perkembangan lingkungan.
Intinya begini: jika kita lihat DNA itu sendiri sebagai cetak biru perkembangan makhluk hidup, itulah bukti penciptaan Tuhan. Dan cetak biru yang sangat luar biasa ini mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan disekitarnya. Ini menciptakan perkembangan dari masa ke masa.

AM: Apa ada teori dalam Biologi selain dari Evolusi?
TP: Usaha tentu sudah banyak. Pro dan kontra juga sudah banyak. Tetapi teori Evolusi tetap berkembang terus. Dan sebagaimana yang saya ketahui mainstream Evolusi ini tetap dipegang oleh sebagain besar para Biolog.

AM: Bagaimana dengan Biologi di Indonesia, apa ada yang menolak atau menerima teori ini, atau sudah sangat ketinggalan zaman?
TP: Kembali ke masalah teori Darwin tadi. Saya pernah menaruh rasa kasihan kepada para guru Biologi Indonesia. Terutama ketika Harun Yahya mulai populer. Mereka dihujani pertanyaan Evolusi dan dibenturkan dengan keyakinan agama. Maka guru-guru tersebut kesulitan untuk menjawabnya. Sehingga sebagain guru ada yang menyimpulkan bahwa teori Evolusi itu tidak benar. Mereka khawatir jika menerima berarti melawan doktrin agama dan dianggap kafir. Padahal tidak harus dipertentangkan seperti itu. Keyakinan agama itu jangan sampai membuat orang tidak bisa berfikir Ilmiyah. Berkeyakinan dan beriman juga tidak perlu menghindari, mengungkung, dan menghambat Ilmu Pengetahuan dan berfikir Ilmiyah. Lucunya lagi: itu hanya karena kita tidak bisa memahami suatu proses yang rumit, semacam Evolusi tadi. Saya anggap ini wajar, karena laboratorium-laboratorium di Indoensia dan di negara-negara Muslim masih belum mewadahi untuk menjelaskan proses seperti DNA ini.

Kami mengundang Anda untuk berkomentar!

Tegas Prasojo: Dosen Biologi Universitas Brawijaya Malang, sedang menulis disertasi tentang “Hubungan Kekerabatan di antara Kelompok Burung Enggang” di Universitas Frankfurt, Jerman.