Pada suatu sore, di Friedrichfeld Süd Mannheim, Al Makin (AM) dan Tegas Prasojo (TP) merenung. Kali ini AM bertanya ke TP tentang Teori Evolusi.
AM: Kalau boleh tahu mohon diterangkan, Anda sebagai peneliti di bidang ini di Universitas Jerman, apakah Teori Evolusi itu masih dipegang di bidang Biologi?
TP: Secara garis besar, teori itu masih dipegang. Tapi sudah tidak seperti yang diungkapkan oleh Charles Darwin waktu itu. Karena sudah banyak mengalami perkembangan dengan teori itu. Terutama sekali, berkait dengan penemuan DNA (Deoxyribonucleic acid/b. Indonesia Asam deoksirebosa), teori Evolusi bisa lebih mudah difahami terkait dengan prosesnya melalui substansi yang disebut DNA ini.
AM: Apakah masyarakat Indonesia sudah memahami ini?
TP: Saya rasa kalau yang sudah pernah belajar Biologi di selevel SMA/SMU, setidaknya mereka itu faham apa itu Evolusi. Namun, sejak publikasi tulisan-tulsian popular, seperti yang dilakukan oleh Harun Yahya (penulis popular dari Turki), banyak orang yang kemudian menganggap teori ini, salah, atau lebih tepatnya seratus persen salah. Sehingga, kebanyakan orang kembali memandang proses kehidupan ini, jadi ya, seperti ini-ini sejak diciptakan. Tetap begini saja dari dulu hingga sekarang. Statik! Padahal, proses yang berlangsung dalam hidup dan kehidupan di bumi ini tidak sesederhana yang kita dibayangkan.
AM: Bagaimana cara Anda, sebagai peneliti dalam bidang ini, memahamkan orang tentang hal ini?
TP: Mungkin orang harus dibuat terbuka mata hatinya bahwa proses yang terjadi di alam sekitar ini, walaupun tidak bisa kita lihat dan rasakan secara kasat mata, tidak lah sederhana. Prinsipnya: tidak kelihatan dan tidak terfahami bukan berarti tidak ada. Demikian juga halnya dengan proses rumit Evolusi. Satu hal yang jelas, proses Evolusi itu sangat lambat. Berjuta-juta tahun.
Kita cukup beruntung, saat ini, proses itu bisa diketahui dengan analisa atau perbandingan struktur gen atau gene dari makhluk hidup yang ada sekarang. Perubahan dan perbedaan antar generasi atau antar kelompok itu sangatlah kecil. Paling tidak jika dihitung dalam sekala waktu menurut kita. Misalnya dalam ukuran umur manusia (60 tahun), maka Evolusi dalam gen itu masih belum kelihatan. Singkat kata, ini tidak kasat mata (perkara ghaib). Tapi satu hal yang harus disadari bahwa hal yang sangat lambat itu tetap mengalami perubahan. Coba bayangkan, dulu (dulu sekali, misalnya satu juta tahun yang lalu), alam dan kehidupan ini tidak sama jika dibandingkan dengan kondisi sekarang ini.
Cuma permasalahan yang timbul adalah orang menganggap teori Evolusi itu bermasalah atau malah sumber masalah. Misalnya, kadang orang bertanya, Adam itu berasal darimana? Hasil Evolusi dari makhluk apa? Dari kera, monyet, atau makhluk lain?
Itu masalah yang sering dijadikan pemukul telak bagi teori Evolusi. Evolusi, dengan begini, ditolak. Evolusi tidak benar.
AM: Menurut Anda bagaimana kisah Adam ini, sebagai seorang Biolog?
TP: Wah ini sekedar kira-kira lo Mas. Bisa dikatakan seperti ini: Adam itu mungkin merupakan suatu titik dimana kesadaran sebagai manusia itu mulai dikenal. Bisa jadi, tahap itu adalah tahap perbedaan antara sebagai manusiaan dan kebinatangan.
AM: Jadi proses Evolusi itu jauh lebih rumit dan jauh lebih lama dari ceirta Adam yang kita kenal?
TP: Kalau menurut saya seperti itu lah adanya. Evolusi itu proses rumit, lama, dan dengan ukuran generasi manusia, itu sangat sulit diamati. Beyond manusia lah.
AM: Kira-kira Anda bisa mengatakan angka, berapa lama proses Evolusi?
TP: Kalau angka sulit dijelaskan. Gak mampu kita. Misalnya, kapan Adam ada dan lahir dan pula dia ke dunia. Itu semua, sayangnya, belum bisa dibuktikan secara ilmiyah. Secara sejarah ataupun ilmu lainnya tidak spesifik menyebutkan peristiwa itu.
AM: Gini Mas, kalau, taruhlah Adam dianggap sebagai bagian dari Evolusi, itu kira-kira pada level berapa?
TP: Tentu saja, Adam sebagai manusia, sudah sangat sophisticated. Bayangkan saja begini: Jumlah organisme-organisme kehidupan pada saat Adam ada (tolong bayangkan ini) itu sudah sangat kaya. Jadi kalau saya pribadi dibolehkan beranggapan, taruhlah misalnya, Adam merupakan mata rantai panjang generasi sebelum primata. Dengan begini, bisa jadi kita akan menempatkan kera itu adalah sejenis saudaranya manusia Adam. Dan itu sudah jauh berevolusi, sebagain jadi Adam, sebagain jadi monyet, sebagain mati tak bertahan hidup, dan sebagaian lagi kita tidak tahu nasibnya (missing link).
AM: Gampangnya begini, kira-kira proses Evolusi dari primata awal ke kera atau ke Adam itu membutuhkan berapa juta tahun?
TP: Karena memperkirakan berapa juta tahun itu terkait dengan jumlah data pendukung yang terkumpul, maka semakin kompleks data untuk analisa, akan semakin mendekati akurasi perkiraan tersebut. Tetapi proses itu bisa diperkirakan lima juta tahun yang lalu. Bayangkan juga, berjuta-juta tahun proses permisahan antar spesies juga. Dengan begini, kita bisa membayangkan kira-kira kapan Adam hidup atau mulai ada di dunia ini. Perlu juga diingat, kita harus melakukan analisa ke semua ras yang hidup di dunia saat ini. Dengan begitu, kita bisa tahu ujungnya ketemu di mana. Tentu ini tidak mudah. Analisia seperti ini butuh biaya dan penelitian yang sangat besar.
AM: Bagaimana Anda membayangkan konsep Evolusi Biologi Modern saat ini?
TP: Begini saja, mudahnya. Secara kode DNA manusia dan kera itu hampir bisa dikatakan 80 persen sama. Demikian pula mansuia dengan babi dan anjing, itu lebih dari 50 persen persamaan kode DNA-nya. Ingat, secara DNA lho ya. Perbedaan-perbedaan yang ada sangatlah kecil. Namun perbedaan ini lah yang membentuk struktur tubuh yang kelihatan sangat berbeda.
Dari kenyataan seperti itu, teori Evolusi masih bisa diterima sebagai reasoning (Vernünft/nalar). Dan sekaligus menjelaskan persamaan dan perbedaan antara manusia dan makhluk lain. Antara manusia dan hewan. Perbedaan dan persamaan.
Lebih jelasnya begini:
Semua makhluk hidup di dunia ini struktur pembentuknya sama, yaitu materi organik: protein, lemak, serta DNA. Hingga sampai saat ini belum pernah ditemukan organisme yang memiliki materi penyusun yang berbeda dengan organisme yang lainnya. Contoh seperti makhluk aliens di film-film di Hollywood, itu sulit dibuktikan secara biologis. Intinya: semua mahkluk berasal dari nenek moyang yang sama.
AM: Jadi kita, sebagai manusia, senenek moyang dengan penyu?
TP: Tidak hanya penyu. Semua makhluk hidup dari cacing, kerang, manusia, atau kelelawar. Kita menggunakan dan mengikuti design yang sama.
AM: Jadi sangat sulit menolak teori Evolusi dalam biologi modern dari sudut DNA?
TP: Betul.
Yang perlu ditekankan lagi bahwa selagi belum ada teori yang lebih rasional dari teori Evolusi. Kita masih tetap menggunakan teori itu. Dan teori itu sebagai satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal sampai saat ini. Yaitu, tentang proses terjadinya makhluk hidup di sekitar kita. Kecuali: nantinya ada penemuan-penemua baru, yang lebih bisa menjelaskan proses itu. Mungkin teori Evolusi akan ditinggalkan.
Jadi, kalau pandangan yang mengangap bahwa jumlah hewan dan spesies itu tetap dan tidak berubah itu sulit diterima secara ilmiyah. Dan anggapan statik semacam itu tidak rasional. Lihat dan pelajarilah bahwa bumi itu terus berubah. Lihat juga sejarah kehidupan, ada yang bisa bertahan hidup hingga saat ini dan ada juga yang punah (seperti Dinosaurus). Ada yang mampu bertahan hidup (survival, seperti burung yang merupakan turunan dari Dinosaurus). Perlu diingat pula bahwa yang mampu bertahan itu ternyata bukan yang terkuat, seperti apa kata Darwin.
AM: Kalau boleh tahu, kehidupan ini kausalitas atau aksiden?
TP: Kehidpan ini diciptakan (atau ada) dengan sangat sempurna. Sehingga yang bertahan ya yang mampu beradaptasi. Kemampuan itu sudah dirancang sesuai dengan perkembangan lingkungan.
Intinya begini: jika kita lihat DNA itu sendiri sebagai cetak biru perkembangan makhluk hidup, itulah bukti penciptaan Tuhan. Dan cetak biru yang sangat luar biasa ini mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan disekitarnya. Ini menciptakan perkembangan dari masa ke masa.
AM: Apa ada teori dalam Biologi selain dari Evolusi?
TP: Usaha tentu sudah banyak. Pro dan kontra juga sudah banyak. Tetapi teori Evolusi tetap berkembang terus. Dan sebagaimana yang saya ketahui mainstream Evolusi ini tetap dipegang oleh sebagain besar para Biolog.
AM: Bagaimana dengan Biologi di Indonesia, apa ada yang menolak atau menerima teori ini, atau sudah sangat ketinggalan zaman?
TP: Kembali ke masalah teori Darwin tadi. Saya pernah menaruh rasa kasihan kepada para guru Biologi Indonesia. Terutama ketika Harun Yahya mulai populer. Mereka dihujani pertanyaan Evolusi dan dibenturkan dengan keyakinan agama. Maka guru-guru tersebut kesulitan untuk menjawabnya. Sehingga sebagain guru ada yang menyimpulkan bahwa teori Evolusi itu tidak benar. Mereka khawatir jika menerima berarti melawan doktrin agama dan dianggap kafir. Padahal tidak harus dipertentangkan seperti itu. Keyakinan agama itu jangan sampai membuat orang tidak bisa berfikir Ilmiyah. Berkeyakinan dan beriman juga tidak perlu menghindari, mengungkung, dan menghambat Ilmu Pengetahuan dan berfikir Ilmiyah. Lucunya lagi: itu hanya karena kita tidak bisa memahami suatu proses yang rumit, semacam Evolusi tadi. Saya anggap ini wajar, karena laboratorium-laboratorium di Indoensia dan di negara-negara Muslim masih belum mewadahi untuk menjelaskan proses seperti DNA ini.
Kami mengundang Anda untuk berkomentar!
Tegas Prasojo: Dosen Biologi Universitas Brawijaya Malang, sedang menulis disertasi tentang “Hubungan Kekerabatan di antara Kelompok Burung Enggang” di Universitas Frankfurt, Jerman.

9 users commented in " Evolusi masih sulit diabaikan! "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackTrims Mas sudah dirujuk untuk berkunjung ke sini. Saya merasa asyik juga membaca berbagai-bagai tentang evolusi. Di blog agor ada 17 tulisan yang tidak bermutu berkenaan dengan ini (tag evolusi). Termasuk juga “guyonan” kecil-kecilan yang membahas point-point yang disampaikan oleh TP,
Jelas pula dalam wawancara ini TP sendiri hanyalah mengasumsikan. Saya sendiri setuju :”kasihan” guru biologi Indonesia atau lebih tepatnya kurikulum Indonesia yang mengharuskan kita menerima teori yang masih hipotesis terhadap evolusi. Sedari awal murid sekolah diajarkan untuk meyakini teori ini sebagai kebenaran. Seharusnya dan sewajarnya dibuat perbandingan termasuk sisi penciptaan (keberagamaan) adanya titik nilai yang berbeda. Keberagamaan melalui al Qur’an memberikan informasi kajian yang bisa diuji kualitas kebenarannya. Jika ini disingkirkan dalam proses berpikir, jelas sikap ini juga mengabaikan potensi ilmiah. Fakta-fakta penipuan masa lalu terhadap usaha membenarkan teori evolusi juga tidak pernah dimasukkan sebagai bagian dari proses pendidikan.
Di sisi lain, taksonomi ilmiah klasifikasi dan kesamaan juga adalah satu metode pengambilan kesimpulan yang tentu saja tidak bisa diabaikan. Kalau kesamaan genetik dijadikan alat ukur… bahkan kita juga bisa merujuk kesamaan yang betul-betul sama : potlot dan intan, atau hidrogen dan helium…. atau atom besi dengan sebelahnya dalam susunan berkala unsur-unsur. Atau isotopnya. Perbedaan dalam prosentase sangat kecil, tapi sebagai pembentuk watak kehidupan jelas memberikan makna yang sangat teramat jauh berbeda.
Atau bahkan air temperatur nol - 4 derajat saja sangat berbeda kelakuannya dengan yang 5 derajat…..
Namun, selalu ada alasan untuk mempertahankan termasuk dengan genetika modern.
Saya lebih percaya pandangan filosofis yang melatarbelakanginya….
Toh…he..he…he… dengan urusan dna dan kesamaan itu, jelas tidak mewakili apa yang sesungguhnya tidak kita ketahui. …. (contoh ekstrim isotop atom…).
Maaf ini hanya sekedar komen saja. Bukan memperdebatkan dan terimakasih atas kesediaan berkunjung.
Cukup menarik obrolan dari AM dan TP ini, teori evolusi setahu saya yang awam ini memang terus berkembang dari dekade ke dekade. Dan tentunya didukung oleh penelitian para pakar yang tentunya mengambil kesimpulan dari fakta2 ilmiah. Tapi terus terang tetep aja ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di benak. Kalau dari ilmu biologi, bagaimana mekanisme berubahnya struktur DNA ini? Dan bagaimana asal mula kehidupan ini? Mohon dijelaskan supaya ganjalan2 ini bisa berubah menjadi sesuatu yang mencerahkan saya. Terus ada lagi, menyimak penjelasan di atas bahwa Adam adalah batas awal manusia setelah menjalani proses evolusi dari kera, lalu bagaimana tentang kisah Adam yang pernah tinggal di surga itu? yang konon kemudian dibuang ke dunia, artinya kera2 yang berevolusi itu dulunya tinggal di surga sebelum dibuang ke bumi? mbulet ya….bikin pusing kalo mikirin masalah satu ini.
Saya ada beberapa pertanyaan:
1. evolusi struktur DNA ini secara ilmu biologi pigimana mekanismenya?
2. pigimana makhluk hidup yang pertama dalam evolusi itu muncul?
3. pigimana dengan pohon dalam urutan evolusi itu?
4. kalo Adam adalah batas awal yang bisa dikategorikan sebagai manusia dalam rangkaian evolusi, lantas bagaimana dengan kisah diturunkannya Adam dari surga karena makan buah Khuldi? rangkaian evolusi ini berlangsung sebagian di surga dan sebagian di bumi atau seluruhnya di bumi? kalau seluruhnya di bumi berarti cerita diturunkannya Adam cuma banyolan aja. kalo sebagian di surga berarti kita bisa dong mengeksplor fosil2 monyet di surga untuk diteliti.
Kenapa susah amat sih mengakui Adam itu diciptakan Allah secara spontan????
Saya ada beberapa pertanyaan:
1. evolusi struktur DNA ini secara ilmu biologi pigimana mekanismenya?
>nggak tau
2. pigimana makhluk hidup yang pertama dalam evolusi itu muncul?
>primordial soup?
3. pigimana dengan pohon dalam urutan evolusi itu?
>sebagian spekulasi?
4. kalo Adam adalah batas awal yang bisa dikategorikan sebagai manusia dalam rangkaian evolusi, lantas bagaimana dengan kisah diturunkannya Adam dari surga karena makan buah Khuldi?
>mitos?
rangkaian evolusi ini berlangsung sebagian di surga dan sebagian di bumi atau seluruhnya di bumi?
>ya di bumi lah, mana ada evolusi di surga
kalau seluruhnya di bumi berarti cerita diturunkannya Adam cuma banyolan aja.
>bukan banyolan, “metafor”
kalo sebagian di surga berarti kita bisa dong mengeksplor fosil2 monyet di surga untuk diteliti.
>aneh. gimana caranya mengeksplor fosil2 monyet, di surga pula
Kenapa susah amat sih mengakui Adam itu diciptakan Allah secara spontan????
> ye belum ade buktinye
1. evolusi struktur DNA ini secara ilmu biologi pigimana mekanismenya?
>nggak tau
>> evolusi struktur DNA belum layak diterima sebagai sebuah hipotesa, apalagi teori. saya harap TP menjawabnya!
2. pigimana makhluk hidup yang pertama dalam evolusi itu muncul?
>primordial soup?
>> itu belum juga dianggap hipotesa. seperti apa simulasinya? tolong beri saya dimana reference ilmiahnya.
3. pigimana dengan pohon dalam urutan evolusi itu?
>sebagian spekulasi?
>> absolutely spekulasi
4. kalo Adam adalah batas awal yang bisa dikategorikan sebagai manusia dalam rangkaian evolusi, lantas bagaimana dengan kisah diturunkannya Adam dari surga karena makan buah Khuldi?
>mitos?
>> itu kisah di Quran, dan pengelola website ini seorang muslim sejati bukan? kita tunggu jawaban dari dia.
Jawaban saya secara umum saja, semoga, bermanfaat:
-Begitulah pentingnya kita penelitian dalam lab. Sehingga kita tahu apa yg belum kita ketahui. Bisa jadi banyak hal yg sama sekali belum kita bayangkan akan mengejutkan kita. Sebagai Muslim yg baik, sebagaimana para ilmuwan Muslim masa pencerahan Bagdad, kita harus mendorong seluruh upaya penelitian. Bentuknya apapun. Silahkan dikembangkan. Sesuai dengan bidang masing-masing: biologi, misalnya. Silahkan orang2 yg berkompeten dlm bidangnya spt TP ini, terus kita dukung. Kalau perlu kita biayai. Kita sokong. Biar menelurkan ilmuwan Muslim brilian.
-Ilmu pengetahuan itu sifatnya sementara. Biarlah itu berkembang. Jangan kita intervensi. Toh penelitian akan terus berubah. Gak perlu kita memaksakan sebuah “model” atau “kerangka” tertentu yang mengharuskan ilmuwan mengikutinya. Biarkanlah, tentu kerangka atau model itu tidak akan berlaku. Krn penelitian berjalan terus.
-Sbg orang Muslim, tentu harus mengambil pelajaran dari Kitab Suci. Sejarah. Ilmu. Pengetahuan. Dan segala macam. Tapi, bagaimana kita memahaminya, itu juga perkara dinamis. Krn kita manusia. Manusia terus berkembang….
-Terbukti cerita Adam juga tidak melulu statis. Tapi dinamis. Cerita Adam menurut Tha’labi dan Kisa’i tentu beda dg cerita menurut Maraghi, walaupun mereka semua berdasar Kitab Suci yg sama. Biarlah kita semua kreatif. Bertambah kaya pemikiran, bertambah kita berkembang, bertambah pula kita belajar.
Editor Indonesianmuslim.com(AM)
itulah bedanya ilmu pengetahuan dengan akidah.
ilmu pengetahuan bersifat dzanni (spekulasi dan perkiraan), sementara akidah bersifat qat’iy (pasti).
Assalammu’alaikum wr wb,
Wawancara moderator AM dengan dosen biologi UNBRA, TP, menimbulkan interes untuk menambahkan sedikit pendapat seorang awam macam saya ini tentang “teori evolusi Darwinian” dengan dasar pemikiran Islami yang dikemas dalam firman-firman Qurani sbb: “Innamaa qoulunaa lisyaiin idzaaaa arodnaahu annnaquula lahu ‘Kun! fayakuun’” (QS.16, ayat 40) yang terjemahnya dapat dibaca: “Sesungguhnya apabila Kami menghendaki apa saja, Kami hanya menyebutkan kehendak kami itu “Kun! fayakuun”.
Di sini saya tidak menterjemahkan kalimatullah “Kun! fayakuun” agar kita dapat mengerti bobot dan konteks dari suatu model PENCIPTAAN (design). Mereka yang mengaku atheis menolak adanya design dalam space-time continum, menurut mereka segalanya adalah spontan dan serba kebetulan, nature is nature. Hanya saja mereka umumnya tidak bisa mengakui ABSENT-nya loves and cares dari seorang ibu yang mengandungnya selama 8 a 10 bulan dengan sangat berhati-hati penuh kasih sayang dan kemudian bila tiba waktunya, melahirkannya. Dalam hal loves and cares seorang ibu yang mengandung janin bayi terdapat blue-print, design, si ibu bagi calon manusia yang akan dilahirkannya (ingat DNA) dalam bentuk model WHISFULLNESS.
Cobalah ditelaah sorof dan nahwunya “Kun! fayakuun” nanti akan kita temukan suatu konteks event dalam kemasan space-time continum yang oleh fisikawan dan mathematicus Inggris yang menderita ASL diexpresikan dalam model mathematics integral setapak (path-integral) yang mengandung “no boundary proposals”-nya Hawking-Hartle, di mana muncul suatu pandangan geometri baru yang dinamakan Eucledian-Einstein geometry. Secara awam dapat kita fahami sebagai geometri alam semesta dalam kesinambungan waktu negatif (tentu kita akan kaget adanya waktu negatif, bukan?). Supaya tidak bingung memikirkan, waktu negatif ini hanya merupakan suatu conversi simbol matematik yang diperlukan dalam sistim geometri Eucleudian untuk dapat diterima oleh sistim geometri Einstein. Dalam model ini SW. Hawking memperlihatkan alam semesta sebagaimana dijelaskan oleh firman Qurani: “Kun! fayakuun” (ini menurut hemat saya pribadi).
Yang ingin saya tambahkan dalam wawancara tersebut di atas adalah terjemahan “Fayakuun” yang dalam mathematics ditulis dengan simbol path-integral (menurut hemat saya) sebagai “proces event” atau “evolusi” yang dalam pengertian awam adalah “sejarah, riwayat kejadian”.
“Teori evolusi Darwinian” disebabkan oleh sitkon akumulasi ilmu pengetahuan dan data lapangan yang tersedia pada waktu itu serta keterburuan untuk menyimpulkan hasil observasi lapangan yang diperoleh guna menghadapi tekanan POLITIK penguasa gereja-gereja dan kerajaan Inggris terhadap pemikiran bebas para saintis pada zaman Darwin, mengakibatkan KEBERATSEBELAHAN dalam membuat penyimpulan ilmiah yang tidak lengkap. Yang berakibat terus menerus terjadinya “kesalahfahaman” dan mudahnya “disalahfahamkan” pandangan evolusi biologi yang telah dirintis Darwin.
Dalam firman-firman Qurani yang menjelaskan penciptaan atas kehidupan di Bumi dan penciptaan manusia di Bumi selalu ditegaskan perlunya memahami hal tersebut secara LENGKAP dan SEMPURNA dengan secara baik-baik, ulet, sabar dan kritis melakukan studi terhadap alam semesta seisinya. Melalui methodologi Qurani ini kita akan dapat meningkatkan status diri pribadi sebagai manusia biologis ke status manusia sebagai wakil Allah swt di Bumi - kholifatan fii al-ardzh. Inilah esensi petunjuk ayat 1-5 Surah Al-’Alaq (96), sebab tujuan Allah swt menciptakan mahluk seperti kita ini di Bumi adalah untuk dijadikan wakil-NYA di Bumi yang dengan kemampuan berfikir logis, rasional dan dialektis dapat memahami alam semesta seisinya dan dengan ilmu pengetahuan inilah dapat mengenal siapa atau apa Tuhan yang sejati yang pantas diabdi oleh manusia dan sekaligus dapat mengenal diri manusia sendiri, jika mau mengabdi tentunya. Dan wakil Allah swt di Bumi berperan sebagai PEMELIHARA, PENGEMBANG dan PENJAGA alam lingkungan Bumi dan seluruh penghuninya tanpa membedakan-bedakan antara yang intelligence atau tidak (tidak diperkenankan Allah swt merusak alam lingkungan).
Semoga dapat bermanfaat bagi diri saya dan yang bersedia mengerti.
Wassalam,
Assallammualaikum,salam kenal.
Nice blog.
Jazaakallah khairan
Leave A Reply