Sonny Mumbunan

Dua orang antri di depan kotak otomat karcis kereta. Saya dan seorang pemusik. Saya berdiri tepat di depan dia. Hendak menuju kota Wittenberg, mengisi akhir pekan, saya membeli tiket.

Wittenberg adalah kota tempat Martin Luther menulis 95 tesis yang terkenal, pemicu lahirnya Protestanisme. Tiket itu seharga 27 Euro. Bisa digunakan oleh 5 orang untuk sehari penuh.

Di tengah perjalanan nanti, saya rencananya akan menjemput beberapa teman yang telah menunggu di kota Halle. Kami ingin melihat kota tempat Luther berkarya. Saya berangkat dari kota Leipzig. Kira-kira, seperti Anda berangkat sendiri dari Jakarta, menjemput orang di Bandung, lantas bersama-sama menuju Semarang.

Dalam perjalanan dari Leipzig ke kota Halle (ingat Jakarta ke Bandung), saya berangkat seorang diri dengan tiket untuk 5 orang. Karena sendiri, kapasitas tiket tersebut tidak digunakan sepenuhnya. Para ekonom menyebut ini tidak efisien. Dan, bila menggunakan mekanisme pasar, kapasitas itu akan sia-sia. Setidaknya, untuk pasar mungil bernama pasar tiket kereta api.

Dalam teori standar yang dipelajari mahasiswa ekonomi, mereka yang antri membeli tiket dianggap memiliki informasi lengkap.

Asumsi tersebut tidak akurat. Dalam cerita ini, terdapat begitu banyak penumpang kereta yang tidak tahu-menahu kebutuhan penumpang lainnya dan (kapasitas) sumberdaya tiket yang mereka miliki. Sumberdaya itu terbuang percuma, tak terpakai.

Pemusik yang antri di belakang saya hendak pergi ke kota tempat teman-teman saya menunggu. Tujuan dia sama dengan tujuan antara saya. Saya tak kenal dia, dia juga tidak mengenal saya. Dia hendak membeli tiket untuk dirinya sendiri seharga sekitar 5 Euro.

Agar alokasi sumberdaya (tiket kereta) berlangsung efisien, saya menoleh ke belakang. Saya menawarkan dia untuk pergi bersama saya, tanpa perlu membayar atau membeli tiket. Ada dua efek. Pertama, dengan begitu dia tidak perlu “membuang” uang 5 Euro. Kedua, saya hanya “rugi” tiga orang, lebih sedikit dibanding empat orang bila tanpa dia.

Dengan menerima tawaran saya tersebut, kami berdua sama-sama untung, dibanding tanpa tawaran itu. Meminjam istilah ekonom, posisi kami berdua adalah pareto improving. Pareto adalah nama pemikir sosial asal Italia yang lahir di Perancis.

Tentu, saya akan lebih untung lagi, bila misalnya saya menawarkan dia untuk membayar tiket pada saya, katakanlah, seharga 1 Euro. Saya untung 1 Euro, plus 1 orang tambahan penumpang. Dia untung 4 Euro, dibanding membayar harga tiket penuh.

Dia akan sangat senang hati hanya membayar 1/5 harga tiketnya. Pokoknya, selama tawaran saya lebih kecil dari uang yang harus dia keluarkan tanpa tawaran tersebut, yakni 5 Euro.

Sampai sebelum saya menoleh padanya (= mengetahui kebutuhan dia, menjelaskan tawaran saya, dan kami berdua bersepakat), pasar tidaklah efisien. Penyebabnya, kami berdua (atau, dalam kasus ini: salah satu dari kami) tidak tahu-menahu informasi sumberdaya dan keinginan yang dimiliki setiap orang.

Dan ketimpangan informasi semacam ini, biasa disebut asymmetric information, lazim ditemukan dalam mekanisme pasar. Dengan sedikit koordinasi, seperti yang dilakukan saya dan pemusik itu, persolan akut dalam mekanisme pasar ini bisa diatasi.

Joseph Stiglitz, Michael Spence dan George Akerlof memperoleh Nobel Ekonomi tahun 2001 untuk sumbangan mereka atas persoalan-persoalan semacam ini.

Saya dan pemusik itu juga mendapat “hadiah nobel” kecil. Dia tak perlu merogoh saku untuk sampai kota tujuan. Dan saya mendapat teman bicara, ketika kereta melaju menembus pagi.

***

Catatan

Dalam cerita di atas, contoh Jakarta-Bandung-Semarang dipilih untuk membantu membayangkan arah kereta jalur Leipzig-Halle-Wittenberg, bukan jarak. Perbandingan jarak dalam kedua contoh ini tidak sama: Jakarta-Semarang jauh lebih panjang dibanding Leipzig-Wittenberg. Jarak Jakarta-Bandung misalnya, adalah sekitar tiga kali lebih panjang dibanding Leipzig-Halle. Terima kasih untuk F Thufail, sendirinya ikut ke Wittenberg, yang telah menunjukkan pokok ini.
——-
Penulis belajar ilmu ekonomi, sementara menulis disertasi tentang pilihan kebijakan transfer fiskal dan pengaruh kemiskinan dalam konservasi air di Indonesia. Blog, http://nomordelapan.blogspot.com/