Keberatan sejumlah kelompok Islam terhadap Ahmadiyah, antara lain, adalah bahwa sekte ini menganut ajaran yang berlawanan dengan akidah Islam, terutama kepercayaan tentang adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Ini berlawanan dengan doktrin standar Islam tentang finalitas kenabian Muhammad. Mereka mengatakan: jika Ahmadiyah mau tetap diakaui sebagai bagian dari umat Islam, maka sekte itu harus kembali ke ajaran Islam yang benar. Dengan kata lain, harus meninggalkan doktrin kenabian
mereka. Jika tidak, mereka harus mendirikan agama baru di luar Islam.
Banyak tokoh Islam yang berpandangan bahwa masalah Ahmadiyah akan
selesai jika kelompok ini mau memisahkan diri dengan baik-baik dari
Islam, dan mendirikan agama baru. Pandangan ini tampaknya mendapat
banyak pengikut di kalangan tokoh-tokoh Islam. Mulai dari Ketua MPR,
anggota DPR, menteri agama, sejumlah tokoh dalam MUI, dan tokoh-tokoh
Islam lain pernah mengemukakan hal ini secara publik lewat media
massa.
Pertanyaannya: apakah betul jika Ahmadiyah menjadi agama baru,
masalahnya akan selesai? Apakah benar, jika kelompok ini menyatakan
diri sebagai agama baru di luar Islam, dia tidak dimusuhi lagi oleh
sejumlah kelompok dalam Islam sebagaimana kita lihat saat ini?
Saya, terus terang, ragu sama sekali. Argumen ini dikemukakan oleh
banyak kalangan Islam (terutama yang konservatif/ fundamentalis)
sebagai “taktik sementara” untuk melumpuhkan Ahmadiyah sebagai sebuah
jamaah. Saya tidak yakin, kalangan Islam yang memakai argumen ini
benar-benar memiliki komitmen untuk tidak mengganggu Ahmadiyah setelah
sekte itu benar-benar memisahkan diri sebagai agama baru. Sejak awal,
kelompok ini memusuhi ide toleransi dan anti pluralisme. Bagaimana
mungkin kita bisa berharap mereka akan bersikap “pluralis” dan toleran
terhadap Ahmadiyah setelah sekte ini benar-benar menjadi agama baru?
Bagaimana mungkin kita berharap orang-orang seperti Khalil Ridlwan,
Sobri Lubis, Al-Khatta, FPI, FUI, MMI, HTI bisa bersikap pluralis?
Mengharap mereka bersikap demikian sama saja berharap “dua ditambah
dua sama dengan lima”, alias mustahil.
Taruhlah Ahmadiyah benar-benar menjadi agama baru, meskipun
pengandaian ini sangat sulit terjadi, maka sejumlah masalah baru akan
tetap muncul kembali. Sebagaimana kita tahu, Ahmadiyah masih memakai
Qur’an dan hadis sebagai dua sumber utama dalam kepercayaan mereka.
Mereka juga masih beribadah persis dengan umat Islam yang lain. Mereka
masih menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutan utama. Seluruh akidah
mereka di luar masalah kenabian sama persis dengan akidah umat Islam
yang lain. Kalau pun ada perbedaan, paling jauh hanya menyangkut
interpretasi mengenai beberapa hal yang kurang terlalu penting
(misalnya soal kematian Nabi Isa di mana mereka memiliki interpretasi
sendiri yang berbeda dari umumnya kalangan Islam dan Kristen).
Jika Ahmadiyah menjadi agama baru, umat Islam “ortodoks” bisa jadi
akan mengangkat masalah baru yang tak kalah rumitnya. Mereka bisa saja
mempersoalkan penggunaan doktrin, ajaran, simbol dan atribut Islam
oleh Ahmadiyah yang sudah menjadi “agama” baru itu. Ingat protes
sejumlah kalangan Islam beberapa waktu lalu atas komunitas Kristen di
Jakarta yang memakai simbol Islam dalam ibadah natal, seperti baju
koko dan peci, dua jenis pakaian yang dianggap sebagai milik khas umat
Islam. Jika umat Kristen memakai baju koko saja diprotes karena
dianggap “mencuri” simbol Islam, apa yang terjadi nanti jika Ahmadiyah
menjadi agama baru, sementtara jamaahnya masih beribadah dan
berkeyakinan sama persis dengan umat Islam yang lain?
Pertanyaan yang sulit dijawab oleh kalangan Islam adalah: bagaimana
mungkin “agama baru” (yakni Ahmadiyah) memiliki akidah, ajaran, dan
ibadah yang sama persis dengan Islam? Bagaimana mungkin seorang
Ahmadiyah yang melaksanakan salat, puasa, zakat, dan haji sama persis
dengan umat Islam yang lain dianggap mengikuti agama lain hanya
gara-gara perkara kecil, yakni interpretasi soal kenabian?
Masalah lain: jika Ahmadiyah menjadi agama baru, apakah mereka masih
diperbolehkan mendirikan masjid dan beribadah dengan cara yang sama
dengan umat Islam yang lain? Apakah jamaah Ahmadiyah masih
diperbolehkan memakai Qur’an dan hadis sebagaimana umat Islam yang
lain? Apakah mereka masih diperbolehkan melaksanakan haji yang masih
mereka anggap sebagai kewajiban agama, sebagaimana keyakinan umat
Islam yang lain?
Jika tuntuntan agar Ahmadiyah menjadi agama baru adalah meminta jamaah
Ahmadiyah meninggalkan seluruh doktrin dan atribut Islam, dan
sebaliknya menciptakan agama baru yang sama sekali beda dengan Islam
dalam segala hal, maka ini permintaan yang konyol. Sebaliknya, jika
permintaan itu hanya sebatas Ahmadiyah mendeklarasikan diri sebagai
agama baru karena persoalan doktrin kenabian, pertanyaannya: apakah
setelah itu ada jaminan tak ada gangguan lagi pada mereka di masa
mendatang?
Jaminan itu jelas tak ada sama sekali. Sebagaimana kita tahu, agama
resmi yang jelas-jelas sudah diakui negara seperti Kristen saja masih
mengalami banyak kesulitan untuk mendirikan tempat ibadah, misalnya,
dengan alasan melanggar SKB (Surat Keputusan Bersama) yang dibuat
begitu rupa sehingga menguntungkan umat Islam yang mayoritas; jika
Kristen saja mengalami banyak kesulitan, apalagi Ahmadiyah yang
tentunya jauh lebih kecil ketimbang agama Kristen. Saya menduga,
jikapun Ahmadiyah menjadi agama baru nantinya, mereka akan mengalami
tekanan yang jauh lebih berat daripada yang mereka hadapi saat ini.
Mereka kemungkinan besar akan dihalangi untuk membangun masjid karena
dianggap akan bisa menyesatkan kalangan awam. Mereka akan dilarang
untuk berdakwah, dengan alasan bahwa dengan memakai doktrin dan ajaran
Islam yang sama dengan ajaran yang dianut oleh umat Islam yang lain,
dakwah itu bisa menyesatkan masyarakat luas. Ingat, Ahmadiyah di
Pakistan yang dipaksa menjadi kelompok di luar Islam, hingga saat ini
masih mengalami masalah dengan kolompok Islam arus utama yang lain.
Dengan kata lain, dengan menjadi agama baru, Ahmadiyah menjadi lebih
mudah dijadikan sasaran empuk untuk diserang oleh kalangan Islam.
Selama Ahmadiyah masih berada di dalam Islam, kalangan Islam
konsevatif-fundamen talis itu masih mengalami kesulitan untuk
melancarkan “serangan penuh” atas Ahmadiyah. Begitu Ahmaidyah resmi
keluar dari Islam dan menjadi agama baru, mereka bisa diserang dengan
lebih leluasa.
Harus kita ingat, kebencian kelompk Islam konservatif- fundamentalis
Islam tidak terbatas pada Ahmadiyah. Saya melihat, Ahmadiyah hanya
sasaran antara saja. Jika mereka berhasil “melumpuhkan” sekte kecil
ini, mereka akan melancarkan eksperimen serupa untuk menyerang
kelompok-kelomok lain yang mudah dijadikan sasaran tembak, seperti
sekte Syi’ah, atau kalangan pemikir Islam yang berpikir kritis yang
selama ini juga sudah sering mereka benci.
Tujuan kalangan konservatif adalah: mereka mau menjadi pemilik tunggal
merek “Islam”. Mereka mau menjadi “diktator keyakinan”.
Allahumma inna na’udhu bika min al-ghuluwwi fi al-din, wa na’udhu bika
min al-mutasyadidin wa al-mutatharrifin.

6 users commented in " Apakah Masalahnya Akan Selesai Jika Ahmadiyah Menjadi Agama Baru? "
Follow-up comment rss or Leave a Trackbackyang menjadi mustahil itu adalah pikiran anda sendiri.anda telah menutup diri dan pikiran anda dari sesuatu yang belum terjadi.dan kemustahilan anda adalah ke ekslusifan pemikiran anda dalam menerima pemikiran yang sudah mapan saat ini mengenai pilar utama dalam agama islam. ( hanya praduga saja ).
bung untuk melestarikan sebuah isme mesti ada hal yang di korbankan.di amerika saja yang konon menjadi tolak ukur kaum SEPILIS (sekularis,Pluralis,Liberalis) membantai habis paham komunis.nah pertanyaannya dimana letak humanis-nya di negara dambaan kaum SEPILIS itu.
bung Aqidah itu jadi hal yang utama di atas segala-galanya ,bigtupun bagi anda “mungkin”.
tak perlu emosi menanggapi tentang ahmadiyah. anda pembuat artikel ini kok cenderung lebih mengayomi ahmadiyah…anda sepertinya berkecederungan kepada “mereka yang sedang tertindas”.
mas, bahwa Syahadat itu ada 2. Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. kedua hal ini merupakan batasan yang haq. alias tidak ada tawar menawar, negosiasi, apalagi multi persepsi terhadapnya. itu kita sebut AQIDAH. jadi ketika ada anggapan masih ada nabi baru (apapun sebutannya) setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW maka itu merupakan sebuah bentuk penyelewengan Aqidah. jika sudah demikian maka ISlam telah dilecehkan. timbulnya sesuatu yang baru seperti munculnya Ahmadiyah, Ahmad Mushadeq boleh jadi karena saking jauhnya kita dari zaman Nabi tersebut, diikuti dengan semakin jauhnya umat ini dari para Asatidz, ulama yang shahih dan orang2 alim sejati kemudian masalah dunia yang semakin merajal lela menyebabkan orang ingin mudah mencari sesuatu untuk pegangan yang konkrit. maka timbullah aliran2 tersebut. sebagaimana dalam kisah Nabi ISa AS hingga kelahiran Nabi Muhammad SAW berjarak ratusan tahun, yang akhirnya kaum yahudi dan nasrani tidak tidak mau menerima kedatangan seseorang utusan baru, apalagi utusan tersebut bukan berasal dari kabilah mereka.-anda sudah tahu kisah ini bukan-kalo belum belajar sejarah Rasul dan sahabatnya ya…-
inilah yang kemudian menjadikan orang ingin mencari sesuatu yang baru, fresh, konkrit, real dsb…
sehingga mucullah berbagai aliran yang betul2 exodus dari ISlam sendiri. apapun alasannya..
ingat Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir la nabiyya ba’da…
ok semoga Allah SWT menjaga hidayah-NYa atas kita semua
jadi ketika ahmadiyah saat ini di”serang” adalah karena kesadaran kaum muslimin yang
merasa perlu melakukan pembelaan terhadap aqidah ini, cuma memang terlihat begitu extrem…ini adalah kekurangn bangsa kita, hal ini dikarenakan pihak yang seharusnya turun tangan (amir bangsa) tidak dapat mengelola hal tersebut dengan cepat, tegas dan tepat.sehingga akibatnya sebagian masyarakat bergerak sendiri…ya..sekali lagi Bangsa ini perlu orang2 yang amanah, komit dengan agamanya dan bijaksana….cuma kita sedang memprosesnya agar semakin banyak orang yang tahu Islam sejati daripada ISlam KTP yang masuk ke jajaran pemerintahan…kita di Indonesia
Trims, artikel Ruzbihan ini menarik. Berpikir ke depan. Cuman, sayangnya, dan lucunya, dikomentarin secara sempit, sopan-tapi-pongah dan, terus terang, memuakkan.
Contohnya komentar Bung Andreas di atas. Buat Andreas [dan kalian semua yang pikirannya sama ama dia]: lo kalo baca buku jangan cuman baca Sabili doang dong. Lo tuh orang berpendidikan kan? Baca buku lain dong. Apa cuma mampu baca majalah Sabili dkk yang konon murah, gampang dikunyah, dan dijual di emperan masjid? Nah di sekolahan/ kuliahan lo juga baca buku macem2 kan. Teori ini teori itu. Gue pikir soal agama juga sama. Coba lo ganti Ustadz deh sekali-kali. Lo jangan musyrikkin tuh akidah lo dengan cuma percaya sama satu pendapat kelompok lo sendiri. Sorry kalo gw rada sewot, tapi gue serius nih ngomong.
Trus, lo enak aja ngomong SEPILIS-SEPILIS… sambil menuduh gak karuan, dan penuh semangat penghinaan dengan kelompok yang berbeda sama lo! [singkatan itu cuman dipas-pasin, buat nyakitin kelompok lain, gue juga tahu!]. Gak ada mutunya tau! Kalo cuman nggeret2 singkatan, gue juga bisa nyebut lo si Andreas sebagai pengikut paham SEPILIS. Alias: SEmpit, PIlih-pilih, dan skriptuaLIS! atau lebih pantes disebut pengikut paham RAJA SINGA. Dalam pengertian: sok RAmah, padahal JAhat, SInting dan NGAwur.
Hahaha. Yang terakhir ini tentu saja gue becanda. Jangan dimasukkin hati, ya… Gue ngakuin jadi sedikit terbawa emosi, dan sebel aja sama orang2 yang sok ini, sok itu.
Wah, ini website bagus, dan temanya menarik sangat neeh… Tapi Pak Abu Jihad koq sewwoott yaaa komentarnya.. hahaha… yang sabar napa dikit Om… Tapi emang sih, aku juga kasihan sama orang Ahmadiyah ini. Pihak2 lain apa ngak mikirkan kalao2 suatu mereka dibegitukan sama kelompokm lain? Yang perlu sekatrang itu adalah rule of the game yang jelas.. kayak tinju.. mau berdarah2 juga silahkan.. tapi ada peraturan yang jelas.. tapi jangna sampai petinju yang sudah babak belur dibiarkan dihajar.. ente kena diskualifikasi kayak si roy jones junior dulu..
OK deh pisss 2 u all..
Assalamau’alaikum Saudara2ku seiman.
Sepertinya pembahasan tulisan Mas Ruzbihan Hamazani ini jadi seru saja. Sampe ngomongin Amerika yg jadi mbahnya SEPILIS-lah, bacaan yg cuma Sabili-lah. Hahahaha! Lucu banget. Sampeyan-sampeyan ini jadi kayak anak kecil saja.
Menurut saya, yang sangat awam ini, iman adalah soal pilihan setelah kita tau apa saja isi yang ditawarkan macam2 hal. Mau itu agama, isme-isme yang ada dari jaman Yunani kuno, atau bahkan kekuatan yg ditawarkan uang, semua tentang gimana kita melihat opsi2 itu.
Saya sendiri, telah memilih untuk menjadi seorang muslim yg mungkin untuk sebagian Saudara2 muslim sebagai neo-fundamentalis atau yg disebut Sayed Mahdi Al-Jamalullail di http://idhamdeyas.blogspot.com/ sebagai sisi kanan salafiyah. Pun begitu, ketika ada Saudara muslim yang memilih “jalur” lain dalam tauhid ini, bagi saya penghargaan harus tetap diberikan.
Mmm, terus soal Ahmadiyah, saya sendiri ga setuju dg apa yg mereka yakini. Buat saya, Ahamadiyah sudah bukan Islam lagi terlepas dari penggunaan Al Qur’an dan Hadits dalam aktivitas keagamaan mereka. Bagi Saudara2 yg terkesan membela Ahmadiyah, saya bisa mengerti cara pandang mereka terhadap pluralitas masyarakat kita. Latar belakang akademis, lingkungan, dan pilihan telah membentuk cara pandang Saudara2 itu kepada fenomena yang ada secara umum. Saya menghargai pendapat itu meskipun saya 100% tidak setuju. Soal kekerasan ke Ahmadiyah, saya juga 100% ga setuju. Itu sama sekali ga nyelesein masalah.
Salut untuk teman2 yg mau open minded.
Leave A Reply