Dewi Candraningrum
![]()
Judul Buku : Paul Celan: Candu dan Ingatan, Seri Puisi Jerman 003.
Editor & Penerjemah: Berthold Damshauser & Agus R. Sarjono
Penerbit : Horison Jakarta, 2005
Tebal : 140 halaman
hier wohnte Sidonie Sander
J.G. 1869
deportiert 1942
tot im ghetto Warschau
Akhir-akhir ini, masyarakat Muslim diharu-biru oleh pernyataan kontroversial Presiden Iran Ahmadinejad terkait dengan kesangsiannya akan genosida etnis Yahudi di Jerman pada paruh kedua abad ke-20. Hampir semua mahasiswa dan kolega Muslim saya, bereaksi senada terhadap pernyataan Dinejad. Tulisan ini, khusus, saya persembahkan untuk para kolega Muslim di seantero Indonesia.
Senyampang studi di Munster, Jerman, saya mencoba meluangkan waktu mengunjungi dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah, terutama monumen-monumen yang berkaitan dengan pembunuhan masal terhadap bangsa Yahudi di Jerman. Kebetulan kami tinggal di sebuah kota kecil yang indah, Munster. Di kota ini, korban Yahudi adalah yang paling banyak dari seluruh propinsi lain di Jerman. Jikalau kita menginjak jalan-jalan terbuat dari bongkah batu di pusat kota Munster, sesekali kita akan menginjak batu kuningan di depan beberapa toko atau rumah warga. Bertuliskan: “Di sini pernah tinggal Sidonie Sander, lahir 1869, dideportasi pada 1942, meninggal di ghetto Warsawa”. Ada haru-biru-pekat juga maut-kelam ketika menginjak beberapa batu kuningan di jalanan yang merupakan, Gedachtnis, simbol ingatan akan kuburan bagi orang Yahudi di Munster kala itu. Sebuah kebijakan yang cukup elegan dari bangsa Jerman kepada warganya terutama juga generasi muda untuk tidak mengulang pembunuhan atas nama kebenaran di negeri Mercedes itu. Juga kebijakan yang teramat penting, untuk tidak menyebarluaskan kebencian antar ras-etnis, agama dan budaya, yang mengakibatkan genosida. Di Indonesia, hal ini cukup penting menjadi contoh praktek budaya, mengingat darah beberapa suku-etnis yang dibunuh masal di Indonesia masih basah dan segar dalam ingatan kita.
Selasa lalu, Berthold Damshauser, Pak Trum biasa kami memanggilnya, kawan dekat dari komunitas sastra di Indonesia, mengirimkan puisi Paul Celan. Ya… Celan telah tiba. Dengan duka indahnya telah menghampiri sajadah saya di bulan Ramadhan ini. Terbayang arogansi Dinejad di mukena putih yang saya pakai untuk shalat Shubuh dini hari waktu Jerman. Saya tidak bisa bersetuju dengan cara pandang dia akan peristiwa holocaust ini, dan seringkali saya harus adu argumen cukup berat dengan kolega-kolega Muslim saya di Indonesia, yang saya pahami kondisi mereka yang kurang bernalar panjang dalam membaca dan mengkhidmati sejarah.
Fuga Maut, Pelarian Maut
Buku kumpulan puisi Paul Celan ini adalah seri ketiga Puisi Jerman yang diterbitkan oleh Horison dalam wadah pertukaran budaya antara Indonesia-Jerman yang difasilitasi oleh Kedutaan Jerman dalam rangka kegiatan Komisi Indonesia untuk Bahasa dan Sastra. Diterjemahkan oleh Berthold Damshauser (dosen Sastra Indonesia di Universitat Bonn) bersama Agus R. Sarjono (redaktur majalah sastra Horison). Berbeda dari kedua seri Puisi Jerman yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebelumnya, (yaitu) Bertolt Brecht dan Rainer Maria Rilke, kumpulan 40 puisi Celan ini dihiasi oleh ilustrasi sketsa Herry Dim, pelukis Muslim asal Bandung. Sedangkan animasi dari sketsa itu terdapat pada sebuah VCD yang dilampirkan kepada bukunya. Selain animasi, pada VCD itu terdapat resitasi puisi Celan oleh Berthold Damshauser yang diiringi oleh musik komponis Jerman Peter Habermehl. Suara Berthold Damshauser dalam sekian banyak resitasi puisi seperti suara Trum, hingga kawan-kawan penyair menyebut beliau sebagai Pak Trum. Dahsyat dan memukau! Pembaca akan dapat menikmati resitasi, musikalisasi ini dalam VCD yang menjadi pelengkap buku ini.
Celan terlahir sebagai etnis Yahudi di Bukowina (bagian negara Ukraina) tahun 1920, yang berbahasakan Jerman. Ibunya, Yahudi pula, adalah penggemar puisi-puisi Jerman yang terkenal muram, kelam dan dingin bagai bekunya musim dingin Jerman. Kepedihan maut yang melukai Celan sampai akhir hayatnya ketika mengetahui kedua orang tuanya mati disapu oleh angin Holocaust dari Berlin. Luka Celan tak hanya berhenti dari pengalaman akan kehilangan kedua orang tuanya, luka Celan adalah juga luka pengalaman kaya penuh kesedihan tatkala dia berada dalam kamp kerja paksa Yahudi. Celan menyaksikan tobong-tobong mengepulkan asap mayat-mayat yang terbakar, demikian pula tanah-tanah yang basah oleh darah saudaranya.
Namun demikian, kecintaan Celan akan bahasa Jerman, bahasa yang telah membunuhnya seumur hidup, tak lekang dimakan zaman: “Dan setujukah kau, Ibunda, seperti dulu, ah, di rumah/ dengan puisi sunyi, puisi Jerman yang menyakitkan?”. Pembaca Indonesia, pembaca Muslim, khususnya, dapat menghirup awan berbau mayat itu melalui puisi-puisinya. Senandung yang dipenuhi oleh sayatan-sayatan luka. Kepulan asap mayat itu, dalam puisinya, digambarkan sebagai “kuburan awan”. Kata dengan “sur-meta-melampaui” akan realitas “basah tanah kuburan”. Lampauan realitas itu adalah realitas bagi sajak-sajak Celan. Luka dan kesedihan adalah realitas dalam sajak Celan. Sampai-sampai, debu-abu-jenazah itu meminum hujan, dan hujan telah meminum debu-abu-jenazah itu (hlm, 81). Dan, sampai-sampai Yesus, mesti berdoa kepada serombongan Fuga Maut itu (hlm, 47). Kesedihan dan siksa tak terperi itu tergambar dalam kata-kata yang memilukan: tatkala Yahudi meminum susu hitam, kemudian menggali kuburnya sendiri atas perintah Sang Tuan Gila (Tentara SS Jerman) yang memaksa mereka, bahkan, menghibur dengan musik dan tari dalam kamp konsentrasi (gambaran puisi Todesfuge-Fuga Maut). “Fuga” dalam bahasa Latin bermakna “pelarian diri”. Pelarian Yahudi itu, telah, menggali kuburan di udara dengan asap mayatnya, dan menggali kuburan di tanah dengan tubuh kurus-keringnya. Ini mengingatkan saya pada beberapa film dokumenter tentang genosida bangsa Yahudi yang diputar di salah satu stasiun tivi Jerman, ARTE. Juga kisah-kisah guru agama Islam saya di Quran-Hadits. Tentang bangsa yang selalu terusir, tentang penderitaan yang tiada habis. Kisah-kisah di tivi ARTE dan kisah-kisah guru agama saya, tentu sangat berbeda sudut pandangnya. Namun, dari keduanya, saya dapat menimbang sebuah kesimpulan yang cukup seimbang. Akan bunyi sejarah.
Bangsa Yahudi dan ibunya adalah tema sentral dari seluruh puisinya, disamping juga sajak tentang kekasih-Jerman yang berambut pirang-bermata biru, Ingeborg Bachmann, yang adalah penyair kondang Jerman. Yahudi digambarkannya sebagai tamu dari selatan (Eropa berposisi di Utara dari Jerusalem), “tamu yang berbentuk abu, tamu yang tak pernah beruban”, karena maut menjemputnya selagi rambut masih hitam pekat.
Kumpulan puisi ini, sangat penting dibaca, terutama oleh generasi muda Muslim Indonesia. Untuk dapat mengetahui lebih komprehensif sedemikian juga obyektif akan fakta sejarah holocaust yang merenggut nyawa enam juta (!) orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi antara tahun 1933 dan 1945 (hlm, 35). Terpenting, dari menjiwa-ruhkan kepedihan bangsa Yahudi dalam nalar sejarah Muslim Indonesia adalah pengantar penting dari Berthold Damshauser akan sejarah Paul Celan sebagai orang Yahudi bersastra dalam bahasa Jerman. Dengan membaca pengantar yang sarat dan kaya akan informasi sejarah ini, semogalah nalar sejarah Muslim Indonesia dapat lebih lengkap, dan tak tertangkap oleh pernyataan tak hati-hati dari Presiden Iran, Ahmadinejad. Sebagai perempuan Muslim, saya menolak keraguan Dinejad akan genosida ini. Dan, saya, bersetuju sepenuhnya pada luka Celan. Getir-pahit susu hitam, yang telah saya reguk, pula, di bulan Ramadhan 1428 H ini.
—————
Tulisan serupa pernah terbit di Jurnal Maarif, Vol. 2, No.6, Desember 2007, bedah buku, hal 43-46.
Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta, sedang menulis disertasi dengan beasiswa DAAD, sambil mengajar di Institut fur Ethnologie Universitat Munster, Jerman.

1 user commented in " Celan telah Tiba: Puisi Maut Holocaust "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackPuisi ‘TODESFUGE’ karya Paul Celan sungguh menyentuh hati saya .. Saya dan para sahabat saya (dengan group: Schwarze Gruppe) pernah menampilkan visualisasi mahkarya itu dalam kegiatan kampus UNIMED, Jurusan Bahasa Jerman …simbolik - simbolik yang menyakitkan .. namun itulah kenyataan yang justru dialami penulis sendiri …
Oh .. “schwarzes Milch der Fruhe .. wir trinken sie Abends..wir trinken sie Nachts .. wir trinken sie Mittags .. wir trinken und trinken ……”
Leave A Reply