Oman Fathurahman
Julie d. Howell (2003) menggunakan istilah urban sufism dalam satu kajian antropologi tentang gerakan sufisme yang marak di wilayah perkotaan di Indonesia, seperti Paramadina, Tazkiya Sejati, ICNIS, IIMAN, dan lain sebagainya. Kajian Howell saat itu belum mencakup fenomena Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham, dan Aa Gym, yang sebetulnya juga memperlihatkan karakteristik spiritual “ala kota” tapi muncul belakangan.
Pengertian urban sufism sendiri bisa mencakup berbagai fenomena gerakan spiritual yang muncul di tengah masyarakat perkotaan. Maka, di samping gerakan spiritual yang lebih mengutamakan ritual zikir dan do’a tanpa organisasi tarekat—sebagaimana yang dilakukan Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham, dan Aa Gym—juga termasuk dalam kategori urban sufism adalah gerakan tasawuf konvensional yang masih terikat dengan simpul-simpul organisasi tarekat, seperti yang ditampakkan oleh komunitas Tarekat Qadiriyyah-Naqsybandiyyah.
Urban sufism merupakan fenomena umum yang terjadi di hampir semua kota besar di dunia. Hanya saja, urban sufism tidak bisa dipahami sebagai telah menggeser popularitas tarekat konvensional. Kenyataannya tasawuf konvensional dengan organisasi tarekat tetap dapat berkembang di tengah hiruk-pikuk masyarakat modern. Fakta ini semakin menegaskan nilai universal dalam sufisme. Seperti diketahui, sufisme cenderung bersifat lentur, toleran, dan akomodatif terhadap keragamaan faham keagamaan dan tradisi lokal. Bahkan, pada level tertentu, sufisme mengandung ajaran kesatuan agama-agama (wahdat al-adyan). Model keberagamaan inilah yang banyak diminati kalangan Muslim perkotaan yang kosmopolit. Dan fakta ini sedikit banyak juga menjelaskan munculnya fenomena sufisme seperti Anand Krishna atau Kelompok Salamullah di Indonesia.
Dalam kaitan inilah Komaruddin Hidayat melihat setidaknya ada empat cara pandang mengapa sufisme semakin berkembang di kota-kota besar di Indonesia: pertama, sufisme diminati oleh masyarakat perkotaan karena menjadi sarana pencarian makna hidup; kedua, sufisme menjadi sarana pergulatan dan pencerahan intelektual; ketiga, sufisme sebagai sarana terapi psikologis; dan keempat, sufisme sebagai sarana untuk mengikuti trend dan perkembangan wacana keagamaan.
Kekuatan Zikir, Doa, dan Meditasi
Kendati tidak sepopuler masa-masa sebelumnya, jujur harus diakui bahwa Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham, dan Aa Gym dapat dianggap sebagai contoh figur pribadi-pribadi yang pernah berhasil menghidangkan kekuatan zikir, do’a, dan sentuhan spiritual sebagai suguhan bagi masyarakat perkotaan di Indonesia. Dalam Islam, zikir memang merupakan salah satu ajaran penting yang mendapatkan penekanan baik dalam al-Qur’an maupun hadis.
Dalam tradisi sufisme, zikir bahkan menjadi inti keseluruhan ajaran yang disampaikan para guru sufi, khususnya mereka yang berafiliasi atau menjadi ikon salah satu tarekat tertentu. Para guru sufi umumnya menciptakan formula-formula dan rumusan zikir secara khusus, sehingga menjadi pembeda antara tarekat yang diajarkannya dengan tarekat lain. Demikian halnya dengan pembersihan diri (tahzib al-nafs) yang dihidangkan Aa Gym adalah tujuan akhir dari semua ajaran yang diberikan para ulama sufi terdahulu. Jadi, bisa dikatakan bahwa fenomena Ustaz Haryono, Ustaz Arifin Ilham dan Aa Gym merupakan bentuk lain dari tradisi berzikir dan bertasawuf yang telah berakar kuat dalam tradisi Islam.
Fenomena urban sufism di Indonesia tidak dimulai ketiga ustaz di atas, yang baru populer beberapa tahun belakangan. Hamka, dengan buku Tasawuf Modern-nya, telah jauh mendahului ketiga ustaz tersebut. Hamka adalah orang pertama yang memberi penekanan atas pentingnya mengapresiasi nilai-nilai substantif tasawuf tanpa harus terikat dengan ketentuan-ketentuan tarekat. Belakangan juga muncul sastrawan Abdul Hadi WM yang giat mendengungkan puisi-puisi sufi, khususnya karangan Hamzah Fansuri, sehingga semakin banyak kalangan Muslim yang tertarik dengan ajaran tasawuf.
Mulai sekitar 1980-an, aktivitas sufi di perkotaan ini mulai terlembagakan. Ini ditandai antara lain dengan berdirinya Yayasan Wakaf Paramadina pimpinan Nurcholis Madjid atau Cak Nur (alm.). Melalui kegiatan-kegiatan pengajian dan kursus yang diselenggarakannya, Cak Nur mencoba mengemas tasawuf menjadi menu menarik untuk memenuhi hasrat masyarakat perkotaan yang haus akan nilai-nilai spiritual. Lembaga sejenis lain juga tumbuh, seperti Tazkiya Sejati pimpinan Jalaluddin Rahmat, IIMAN sebagai pusat pengembangan tasawuf positif di bawah koordinasi Haidar Bagir. Dan, seperti halnya Paramadina, lembaga-lembaga tersebut juga menyelenggarakan berbagai bentuk kegiatan seperti kursus, dan pelatihan dengan menyuguhkan materi-materi yang berkaitan dengan tasawuf. Kendati mengalami pasang surut, kegiatan-kegiatan dengan materi semacam itu pernah banyak diminati peserta yang umumnya berasal dari kalangan menengah ke atas (middle class).
Tentu saja, cara pengenalan ajaran-ajaran tasawuf oleh lembaga-lembaga tersebut berbeda dengan dunia tasawuf konvensional. Yayasan Paramadina mengemas kajian tasawuf sebagai bagian dari paket kursus kajian Islam yang ditawarkan. Demikian halnya Tazkiya Sejati, yang memperkenalkan tasawuf kepada masyarakat perkotaan dalam bentuk kursus singkat, serta dengan menyediakan bahan-bahan pegangan dan panduan zikir yang disusun sendiri oleh Jalaluddin Rahmat.
Pelatihan spiritual dan meditasi juga diramaikan dengan munculnya tokoh seperti Anand Krishna. Berbeda dengan lembaga-lembaga keagamaan di atas yang berbasis pada ajaran-ajaran Islam, Anand Krishna—dengan Padepokan Anand Ashram-nya—menyuguhkan berbagai pelatihan spiritual yang disebutnya sebagai tidak terikat dengan sekat-sekat salah satu agama tertentu, melainkan menggabungkannya menjadi menu spiritual “ala Anand”. Dari sejumlah buku yang ditulisnya, Anand Krishna terlihat ingin memanfaatkan potensi lokal dari semua agama yang berkembang di masyarakat.
Dengan ajaran spiritualnya yang eklektis, Anand Krishna kemudian menuai kritik dari sebagian kalangan masyarakat. Sebagian menuduh Anand telah menjual ajaran-ajaran suci dari berbagai agama demi meraup keuntungan materiil. Tidak heran kemudian jika buku-buku Anand yang telah dicetak oleh Penerbit Gramedia ditarik kembali dari peredaran, karena dianggap akan menimbulkan pertentangan dari kalangan masyarakat luas, baik Muslim maupun non-Muslim. Terlepas dari kasus Anand Krishna, yang jelas fenomena ketertarikan masyarakat kota terhadap nilai-nilai spiritual berkembang kuat.
Juga perlu disebut di sini adalah peran media massa yang menampilkan dan bahkan memiliki rubrik khusus tentang tasawuf. Tidak hanya harian Republika, yang memang kental dengan nuansa Islamnya, media cetak lain semisal Kompas, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Indonesian Observer, Media Indonesia, Gatra, SWA, dan Tempo, tidak jarang memuat tulisan atau reportase berkaitan dengan dunia tasawuf. Berbagai tulisan dalam media cetak tersebut, ditambah dengan maraknya penerbitan buku-buku tentang tasawuf, telah banyak memberikan kontribusi terhadap proses sosialisasi aspek-aspek esoteris Islam ke kalangan masyarakat perkotaan yang memang cenderung memiliki akses luas terhadap sumber-sumber informasi tersebut.
Fenomena maraknya kajian tasawuf Islam khususnya, dan spiritualitas pada umumnya, di kalangan masyarakat perkotaan ini tentu saja merupakan hal menarik, karena sebelumnya tasawuf seringkali diidentikkan dengan aktivitas masyarakat pedesaan tradisional belaka, bahkan dianggap sebagai simbol ketertinggalan. Kini, kajian-kajian tentang sufisme dilakukan di hotel berbintang, di kantor, dan di perumahan-perumahan mewah. Apalagi, fenomena bangkitnya tasawuf dan spiritualitas ini sudah menjadi trend global, tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di sejumlah negara lain.
————————–
Catatan:
Tulisan ini hanya merupakan cuplikan pendek dari artikel selengkapnya dalam buku:
Gerakan dan Pemikiran Islam Indonesia Kontemporer
By Rizal Sukma and Clara Joewono (eds.)
Jakarta: CSIS, 2007
Penulis: Dosen Fak. Adab dan Humaniora, dan Peneliti di PPIM, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, sekarang menjadi Peneliti Tamu di Orientalisches Seminar Uni Koeln, atas beasiswa dari The Alexander von Humboldt Foundation, Jerman.

4 users commented in " Urban Sufism: “Kaum Sufi Berdasi” di Indonesia "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackJazakallah atas kunjungan ke Mesir kemarin Pak Oman. salam tuk PCIM Jerman dan keluarga.
bagus, mhn ditingkatkan informasinya
Terima kasih Pak Dr. Aji Hoesodo, saya tunggu juga sumbangan artikel Pak Hoesodo untuk memperkaya web ini. Karena web ini akan ditentukan oleh sumbangan pembaca.
Salam
AM (editor IM)
Ada artikel tentang sejarah sufi di dunia gak mas?
kalau ada tolong kasi alamatnya, atau kirim saja ke E-mail saya.
Thaks
Leave A Reply