Ahmad-Norma Permata

norma.jpgAda fenomena menarik—meski mungkin tidak unik—yang ikut mewarnai dan menyemarakkan perkembangan umat Islam di Indonesia selama ini, yaitu munculnya generasi baru aktivis Muslim berlatar belakang ilmu-ilmu eksakta, yang telah memberikan nuansa yang baru dinamika perkembangan Islam negeri ini.

Salah satu ciri utama pemahaman dan pemikiran keagamaan mereka adalah kecenderungan mengikuti logika ilmu eksakta (IPA: Ilmu Pengetahuan Alam), yang menekankan kepastian dan menghindari interpretasi. Sedangkan secara gerakan ditandai dengan organisasi yang solid dan sistematis serta penguasaan yang sangat baik terhadap teknologi dan media komunikasi mutakhir.

Kelompok di atas sering dilawankan aktivis Muslim tradisi lama yang berlatar belakang ilmu-ilmu non-eksakta (IPS: Ilmu Pengetahuan Sosial), yang dalam pemahaman dan pemikiran keagamaan cenderung mengikuti pola interpretatif, dan secara gerakan lebih banyak memanfaatkan perangkat kultural.

Telaah yang lebih sistematis menunjukkan bahwa perbedaan kedua model gerakan Islam ini mencerminkan perbedaan kerangka epistemologis dimana aktivis-aktivis Muslim tersebut menjalani sosialisasi keislaman mereka. Dan yang lebih penting, perbedaan tersebut merupakan perbedaan pola—dan bukan perbedaan tingkat—keberagamaan, sehingga kedua gerakan ini seyogyanya ditempatkan sebagai saling melengkapi dan bukan saling menghalangi.

Nalar Erklaeren dan Nalar Verstehen

Perbedaan corak pemikiran aktivis “Muslim IPA” dan “Muslim IPS” di atas sejalan dengan penjelasan filsuf Jerman Wilhelm Dilthey (1833-1911) mengenai perbedaan antara ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu sosial-budaya (Geisteswissenschaften).

Naturwissenschaften atau IPA, menurut Dilthey, bertujuan memberikan penjelasan (erklaeren) fenomena yang dikaji. Sebagaimana diketahui, fenomena alam berlaku pasti dan ajeg di manapun dan kapanpun. Misal, air akan mendidih bila dipanaskan hingga seratus derajat celcius.

Ini berlaku valid di maupun, baik di Babat Jawa Timur maupun di Rabat Maroko, baik yang melakukan pejabat maupun penjahat. Karena itu ilmuwan eksakta lebih memfokuskan perhatian kepada perilaku benda-benda secara empirik, tanpa perlu lebih jauh mempertanyakan makna dan motivasi di balik perilaku benda-benda yang dikaji.

Nalar erklaeren ini barangkali tepat untuk menjelaskan pola pemahaman keagamaan aktivis Islam-IPA. Dalam aspek pemikiran mereka cenderung memahami ajaran agama secara eksak. Misalnya, dalam memahami teks-teks agama mereka akan menekankan ‘presisi’ atau ketepatan dari pernyataan yang ada dalam teks.

Demikian pula dalam aktivitas kehidupan, mereka senantiasa berusaha menjaga konsistensi perilaku empirik mereka dengan keyakinan keagamaan dan identitas kemusliman. Dalam berbusana, berpenampilan serta berperilaku, kalangan ini selalu konsistensi dengan identitas mereka sebagai Muslim. Bahkan dalam bertutur kata dan saling menyapa pun mereka sering menggunakan ungkapan maupun istilah yang islami.

Di sisi lain aktifis Muslim yang berlatar belakang ilmu non-eksakta, kembali kepada penjelasan Dilthey, lebih banyak mengikuti nalar Geisteswissenschaften yang dalam operasinya bertujuan memahami (verstehen) fenomena yang dikaji, yaitu realitas kemanusiaan. Berbeda dengan perilaku benda-benda alamiah yang pasti dan ajeg, perilaku manusia bersifat ‘intensional’ atau memiliki aspek internal berupa ‘niat.’

Perilaku manusia, dalam banyak hal, tidak bisa tanpa mengetahui niat dari perilaku tersebut. Karena itu pula bab tentang ‚niat’ selalu diletakkan di bagian awal dalam pelajaran fiqih. Contoh yang sederhana, ada dua orang yang sama-sama mencuri tapi yang satu mencuri karena kelaparan sedang yang lain mencuri untuk modal judi. Kedua perbuatan yang serupa tersebut akan memiliki nilai yang berbeda baik secara moral, hukum maupun politik.

Berbekal nalar di atas, pemahaman keagamaan aktivis Islam-IPS ini cenderung berorientasi kepada konsistensi substantif ketimbang konsistensi empiris. Dalam pembacaan terhadap nash-nash agama kelompok ini banyak melakukan interpretasi atau tafsiran untuk mencari maksud yang tersirat di balik yang tersurat.

Dalam perilaku keagamaan kalangan ini juga lebih menekankan kepada ketulusan niat serta ketepatan memahami substansi sebuah ajaran agama sesuai konteks sosial budaya yang ada. Misalnya, tentang kepatutan berbusana, kesantunan berperilaku maupun keindahan bertutur kata, menurut Islam-IPS, ukurannya adalah niat personal serta kesesuaian dengan tata-nilai yang ada di masyarakat di mana seseorang berada.

Pola bukan Tingkat

Lalu mana yang lebih benar atau lebih baik di antara kedua jenis Islam di atas? Ini pertanyaan yang menjebak, meski barangkali sering kita dengar—atau malah kita ajukan. Tampaknya sudah menjadi naluri logika manusia apabila ada dua pernyataan yang berbeda atau bertentangan kita cenderung berasumsi yang satu pasti lebih benar atau lebih baik ketimbang yang lain.  Padahal bila dikaji lebih jauh, keduanya bisa juga sama-sama salah atau sama-sama benar.

Dan poin yang terakhir ini—keduanya sama-sama benar—yang barangkali lebih tepat untuk menilai kedua corak keislaman di atas.  Argumen ini, secara tradional, biasanya didasarkan kepada berbagai sabda Nabi ketika beliau membenarkan tindakan atau keputusan yang berbeda atau yang terlihat berlawanan. Contoh yang mungkin paling luas dikenal, adalah bagaimana Nabi sama-sama memuji Ibnu Umar yang selalu memilih cara beribadah yang paling ketat dan berat, maupun Ibnu Abbas yang selalu memilih yang paling longgar dan ringan.

Dalam rumusan yang lebih akademik, argumen serupa bisa kita jumpai dalam pemikiran tokoh sosiolog agama Amerika Robert N. Bellah dalam teorinya tentang evolusi agama. Menurutnya, perlu dibedakan antara ‘struktur’ dan ‘kualitas’ keberagamaan. Yang pertama merujuk kepada pola-pola sistem-simbol keagamaan, sedangkan yang kedua mengacu kepada tingkat penghayatan terhadap sistem-simbol tersebut. Perbedaan struktur tidak selalu mencerminkan perbedaan kualitas, dan juga sebaliknya.

Islam-IPA dan Islam-IPS di atas, menurut teori Bellah, lebih menggabarkan perbedaan sistem simbol yang diadopsi oleh para aktivis-Muslim. Perbedaan tersebut, pada gilirannya, merupakan hasil dari perbedaan latar-belakang pendidikan dan cara berfikir yang diadopsi oleh kedua kelompok di atas. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan perbedaan tingkat atau kualitas keberagamaan. Karena tingkat keberagamaan ukurannya adalah totalitas dan konsistensi dari pemahaman serta penghayatan masing-masing orang terhadap sistem simbol yang dia miliki.

Sehingga, sampai di sini, kedua corak keagamaan di atas seyogyanya tidak kita tempatkan sebagai dua pola keberagamaan yang saling berlawanan melainkan saling melengkapi, untuk memberikan penjelasan tentang Islam kepada orang-orang yang tumbuh dalam tradisi keilmuan yang memang berbeda.

Penulis: Kandidat Ph.D pada Graduate School of Politics, Universitas Muenster